Skip to main content Skip to search

UMKM

Constructing an Income Statement

The income statement is another name for the small business owner’s profit and loss statement. This is our second section of the accounting series. We will give how’s to constructing an income statement with objectives as explain the format of the income statement, record transactions, and prepare a simple income statement.

Have any questions? Leave us comments below with #tanyaFMBpartner!

FMB Partner menyediakan jasa penghitungan, pelaporan pajak lengkap dengan penghitungan risiko perpajakannya. Sebelum terhambat, sebelum terlambat, sila tanya dan hubungi kami di  +6221-39728888 atau admin@fmbpartner.com

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Finance Control with ERP/SAP System

Peran Sistem dalam Mengontrol Bisnis

  • Meminimalisasi human error/ kesalahan manusia.
  • Efektif dan efisiensi dalam hal waktu
  • Paper less, bisa mngurangi biaya operasional dalam hal ini pembelian ATK
  • Dapat dilakukan dari mana dan kapan aja (real time)
  • Menghasilkan laporan yang akurat.

Simak slideshow berikut untuk penjelasan lengkap mengontrol bisnis Anda dengan ERP/SAP system:

Bagaimana FMB Partner membantu Anda

FMB Partner dapat membantu Anda dengan jasa one-stop-business-solution mulai dari set up sistem keuangan & akuntansi, pembukuan, review laporan keuangan, analisis laporan keuangan, projeksi keuangan hingga penghitungan dan pelaporan pajak pribadi maupun badan usaha yang komprehensif. Contact us for info and other tax practice at +62 21 397 288 88  or mail to ily@fmbpartner.com

_

Ikuti kami di akun resmi media sosial FMB Group:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Ceklis Legal Awal Tahun untuk UMKM

Seringkali, pengusaha melakukan pendekatan reaktif dalam meninjau aspek hukum bisnis mereka.

Namun hal itu dapat menyebabkan risiko kewajiban yang dapat dihindari, missed opportunities, dan skenario pajak yang kurang ideal. Ketika pemilik bisnis mengadopsi pola pikir “jangan perbaiki kecuali rusak”, mereka dapat saja melewatkan peluang dalam meningkatkan bisnis.

Di sisi lain, pengusaha yang melakukan checkup legal awal tahun mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tentang jenis badan usaha mereka, pemilihan pajak, dan aspek bisnis lainnya. Dalam tulisan ini, kami akan membagikan beberapa ceklis atau checkup legal yang layak dilihat — dan dapat dirundingkan dengan pengacara Anda — untuk memastikan bisnis Anda tetap berada di jalur yang paling sukses.

  1. Apakah bentuk badan hukum bisnis Anda masih menjadi pilihan yang tepat?

Banyak bisnis dimulai sebagai satu bentuk entitas, dan ketika mereka tumbuh menjadi lebih besar dan kompleks, mereka menemukan bentuk entitas lainnya yang berbeda yang akan lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Misalnya, seringkali bisnis satu orang dimulai sebagai kepemilikan tunggal/perseorangan untuk menjaga administrasi tetap sederhana dan tanggung jawab kepatuhan minimal, tetapi ketika mereka mempekerjakan karyawan, memperluas layanan, dan mendapatkan lebih banyak pelanggan, mereka memilih untuk membentuk CV atau PT atau bergabung untuk mendapatkan perlindungan kewajiban, fleksibilitas pajak, dan lebih banyak peluang pendanaan (misalnya, menarik investor atau mampu menjual saham).

  1. Apakah rasional untuk memperluas bisnis Anda ke daerah/kota lain?

Saat bisnis Anda telah terbukti di target pasar saat ini pastinya terlintas keinginan untuk melebarkan sayap bisnis Anda. Caranya dapat dengan menambahkan produk atau membuka layanan (kantor cabang) Anda ke daerah atau kota lain (atau luar negeri).

Adapun sebelum Anda melakukan perluasan bisnis, sangat penting untuk meneliti daerah/kota mana yang dapat menawarkan bisnis Anda peluang terbaik. Penting juga untuk mempertimbangkan apakah dengan terpenuhinya syarat dari bisnis Anda sekarang (pusat) oleh entitas baru atau asing di daerah/kota yang baru (cabang) akan menambah keuntungan Anda atau hanya memberi profit margin yang tipis?

  1. Apakah sekarang ini waktu yang tepat untuk memperluas portofolio produk dan layanan bisnis Anda?

Jika penambahan lini bisnis baru sudah ada dalam biz-wish Anda, tetapi iklim bisnis, regulasi dan peraturan atau faktor-faktor lain menghalangi Anda mengambil risiko, saatnya menilai kembali situasi bisnis Anda. Apabila hambatan di depan pintu masuk telah hilang, sekarang mungkin saatnya untuk mengkabulkan visi Anda.

  1. Apakah Anda memerlukan banyak tangan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam bisnis Anda?

Jujurlah dalam menilai situasi kepegawaian Anda. Jika Anda dan karyawan atau kontraktor yang ada terlalu banyak bekerja dan kewalahan, mungkin Anda perlu mempertimbangkan penambahan staf atau freelancer untuk menyelesaikannya. Jika sumber daya manusia yang tidak memadai menyebabkan Anda kehilangan peluang, mencegah Anda dari memberikan layanan dan dukungan pelanggan yang baik, atau sebaliknya mengurangi kesuksesan bisnis Anda, maka segera atasi lebih cepat sebelum masalah membesar. Demikian juga, evaluasi tim Anda dan identifikasi di mana pengembangan profesional diperlukan untuk mempercepat kinerja yang kurang bersemangat.

Adapun ini adalah kali pertama Anda merekrut karyawan, pastikan Anda memahami undang-undang tentang ketenagakerjaan, peraturan lamaran kerja, wawancara, pengujian narkoba, dll.

  1. Apakah Anda sudah memenuhi tanggung jawab business compliance Anda?

Jalankan bisnis Anda disertai dengan kewajiban hukum yang berkelanjutan. Tanggung jawab khusus dan kapan kewajiban tersebut perlu diurus, akan berbeda-beda sesuai dengan di mana perusahaan berada dan struktur bisnisnya.

Di Indonesia, selain wajib melaporkan pajak bulanan dan tahunan tepat waktu, perusahaan juga wajib menyerahkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) atas progress proyek investasi yang sedang berjalan ataupun yang sudah komersil secara bertahap kepada masing-masing Dinas Penanaman Modal daerah bisnis Anda beroperasi.

Adapun beberapa perusahaan mengadakan pertemuan tahunan untuk membahas jika terjadi perubahan terkait nama perusahaan, alamat bisnis, keanggotaan dewan direksi, format manajemen, jenis saham yang diterbitkan, atau modifikasi signifikan lainnya, di mana sebuah perusahaan harus melaporkannya kepada negara.

Juga, banyak lisensi dan izin (seperti izin bisnis lokal, izin pajak reklame, izin OJK, lisensi profesional, dll.) yang harus diperpanjang. Awal tahun adalah waktu yang ideal untuk memverifikasi situasi Anda yang seharusnya dilakukan pada tahun lalu dan siap untuk apa pun yang harus Anda lakukan dalam waktu dekat untuk tetap patuh dan dalam performa bisnis yang baik sepanjang tahun 2020.

Di mana meminta saran

Saat Anda mengerjakan ceklis ini, pertimbangkan untuk meminta saran atau arahan dari pengacara dan akuntan untuk membantu memastikan Anda membuat keputusan terbaik bagi perusahaan. Anda perlu melakukan apa yang harus Anda lakukan agar perusahaan/bisnis Anda tetap utuh secara hukum. Semakin banyak wawasan dan informasi dari ahli profesional yang Anda miliki, semakin baik posisi Anda untuk memajukan bisnis.

FMB & Partners Law Firm dapat membantu Anda dalam melakukan daftar periksa due diligence yang komprehensif pun membantu keperluan hukum serta legalitas mergers and acquisition bisnis Anda. Contact us for info and other legal practice at +62 21 5082 0033 or mail to mey@fmbpartner.com

_

Ikuti kami di akun resmi media sosial FMB Group:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

How to wrap your business up with a nice little bow for year-end

Ah, the end of the year. It’s time for holiday promotions, boosted sales (hopefully), and year-end preparations. If you don’t prepare for the end of the year and follow a checklist, you’ll probably find yourself burning the candle at both ends.

Coming from an experienced business owner, it’s never too early to start preparing for the year-end. Get a jump start on your year-end checklist and avoid stress by learning how to wrap up your business.

1. Complete End-Of-The-Year Reviews

The end of the year is a great time to review how well your team worked together. But, how can you see that? Cue performance review time.

Year-end is one of the best times of the year to hold performance reviews. You can discuss employees’ accomplishments from the year as well as goals they hope to reach in the new year. Not to mention, performance evaluations give you the opportunity to find out how your employees are feeling. Listen to your employees’ concerns and let them know their opinions matter.

2. Update Your Payroll Records

If you want to start on the right foot in the new year, you need to have all of your employee information organized. So, what does this mean for your business, you ask? Well, this means you need to get your payroll records in order before the year-end.

As an employer, it’s your duty to make sure everything is straight with your payroll records before tax time rolls around. Otherwise, it could cause a plethora of payroll problems for both you and your employees.

You can use payroll software to simplify the process and take the load off of your shoulders. If you opt to handle payroll yourself, be sure to handle tasks like:

  • Verifying employee wages, benefits, and deductions
  • Checking employment tax rates (they tend to change annually)
  • Making sure you recorded all paychecks
  • Recording year-end bonuses and payments.

The sooner you start, the better. When the new year starts, you’ll have even more on your plate, so it’s best that you get a head start on the end-of-the-year payroll process.

3. Tidy Up Your Accounting Books

If you want your accounting books to be in tip-top shape for the new year, take some time to organize your books and business receipts.

Keeping your books nice and tidy is an essential part of staying up-to-date for income tax season. And let’s face it, no business owner wants to be scrambling at the last minute (or maybe that’s just me).

Here are just a few of the things you should be doing at year-end to get your books in order:

  • Gather financial statements
  • Count and cross-check inventory
  • Organize business receipts
  • Reconcile bank accounts

To simplify your year-end accounting process even further, you can organize from the get-go (aka stay organized the entire year) or use accounting software to track financial information.

4. Review Your Business and Marketing Plans

Remember those goals you set at the end of last year in your business and marketing plans (and hopefully looked at throughout the year)? It’s time to revisit those goals you set and see where you stand.

Take a look at your business and marketing plans and review your year. Did you meet the goals you listed in your plans? Or, did you fall short somewhere?

If you didn’t reach your goals, use the end of the year to rethink your strategies and start fresh. Update your plans if you’ve had major changes to your business throughout the course of the year.

Remember, nobody’s perfect. Chances are, you’re going to have a few goals you didn’t reach. And that’s OK! Find out why you didn’t reach certain goals during the year and make it your mission to check it off your list in the new year.

5. Set Goals For The New Year

If you want to grow your business during the new year, you need to have a plan and set reachable business goals.

When the year starts to come to a close, set aside time to think about what goals you want to reach in the upcoming year. Some goals your small business might have for the new year include:

  • Opening a second business location
  • Making X sales in the first quarter
  • Hiring additional employees
  • Expanding your offerings

Your goals can be large (e.g., remodeling your store) or small (e.g., cleaning out your filing cabinet). When thinking about your goals, just make sure they’re attainable. Don’t set goals that you clearly can’t reach within the next year.

Based on your goals, build an action plan and timeline. Your action plan will help you stay on track and give you a timeline to complete said goals.

6. Do A Little Relaxing

Last but not least, don’t forget to cut yourself some slack at year-end. You’re a busy business owner, but that doesn’t mean you have to work your butt off 24/7.

According to one source, a whopping 70% of small business owners do not see a holiday as a vacation from work. Trust me when I say this is one statistic you do not want to fall into.

The best gift you can give yourself (and your family and friends) is your presence. So, attend that holiday party. Bake those cookies with your kids. Hang out with your loved ones. Do whatever you need to do to kick back, relax, and spend some quality time with the people you care about the most.

_

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Risiko Perpajakan atas Penutupan Perseroan Terbatas

Sebuah Perseroan Terbatas (“PT”) secara resmi didirikan berdasarkan akta pendirian yang diterbikan oleh notaris dan disahkan oleh Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Keberadaan PT ini akan terus berlangsung ada, selama tidak ada keputusan untuk melakukan upaya penutupan, baik keputusan dari pihak internal yang bersifat secara suka rela ataupun pihak eksternal yang bersifat secara memaksa karena ketentuan hukum yang berlaku.

Apapun penyebab atas keputusan penutupan tersebut diambil, keputusan penutupan harus dilaksanakan dengan cara yang tepat. Namun pada praktiknya, terutama yang sering terjadi pada usaha kecil mikro-menengah (“UMKM”), setelah PT ditutup, para penanggung jawab PT dituntut untuk membayar sejumlah tagihan pajak yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Meskipun keberadaan PT tersebut secara resmi telah berakhir.

Hal ini disebabkan oleh kekeliruan atas prosedur penutupan PT yang diambil. Pada hukumnya, prosedur penutupan PT dibagi menjadi dua langkah utama, yaitu: penutupan PT secara formal, dan penghapusan NPWP.

Pada langkah pertama yaitu penutupan PT secara formal, salah satu kewajiban PT adalah melakukan proses likuidasi, yaitu: menyelesaikan seluruh kewajiban yang dimiliki, menjual harta perusahaan, dan mengembalikan sisa hasil usaha kepada para pemegang saham.

Proses likuidasi ini kerap sekali dilakukan oleh UMKM tanpa memperhatikan ketentuan standar akuntansi dan perpajakan yang berlaku, sehingga pada proses ini para penanggung jawab PT merasa telah menyelesaikan kewajibannya begitu saja. Padahal, setiap transaksi yang terjadi pada proses likuidasi dapat memunculkan risiko perpajakan baru.

Berikut beberapa contoh transaksi:

  1. Transaksi penjualan harta

Ketika PT menjual sebuah mesin dengan nilai lebih tinggi dibandingkan nilai buku yang dicatat, maka selisih nilai tersebut merupakan keuntungan modal yang merupakan objek pajak penghasilan.

Nilai Buku            = Rp.100.000.000,00

Nilai Dijual           = Rp.150.000.000,00

Keuntungan       = Rp.50.000.000.00 (objek pajak penghasilan)

  1. Pembebasan Utang

Setelah PT menjual seluruh harta yang dimiliki namun tetap belum mampu untuk menyelesaikan sisa kewajiban yang dimiliki, sehingga kewajiban tersebut menjadi gagal bayar. Maka sesuai dengan ketentuan UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf k “keuntungan karena pembebasan utang” merupakan objek pajak penghasilan. Berikut contoh perhitungannya:

Utang awal         = Rp.1.000.000.000,00

Pelunasan           = Rp.200.000.000,00

Gagal Bayar        = Rp.800.000.000,00 (objek pajak penghasilan)

Risiko perpajakan ini akan diketahui ketika PT melakukan langkah kedua dalam penutupan PT yaitu mengajukan proses penghapusan NPWP. Adapun salah satu prosedur wajib yang dilaksanakan sebelum Ditjen Pajak memberikan Surat Keputusan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak adalah pemeriksaan. Apabila Ditjen Pajak memutuskan untuk melakukan pemeriksaan yang bersifat all tax dengan rentang periode yang cukup panjang, maka risiko perpajakan yang akan terungkap tidak hanya risiko perpajakan atas transaksi likuidasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Melainkan juga risiko perpajakan tahun-tahun sebelumnya yang menimbulkan utang pajak yang wajib dibayar oleh PT.

Karena keberadaan PT secara formal telah dibubarkan, maka utang pajak yang wajib dibayar oleh PT wajib ditanggung renteng secara pribadi oleh pengurus PT (UU KUP Pasal 32 ayat (2)). Oleh karena itu, untuk meminimalisir segala kemungkinan risiko yang dapat terjadi maka diperlukan risk assestment dan manajemen yang tepat sebelum melakukan langkah upaya penutupan PT.

_

Artikel pajak ini ditulis oleh:

Albertus, B.M.
Konsultan Pajak FMB Partner

FMB Partner menyediakan jasa penutupan PT lengkap dengan penghitungan risiko perpajakannya. Sebelum terhambat, sebelum terlambat, sila tanya dan hubungi kami di 021-5082-0033 atau admin@fmbpartner.com

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

5 Tips Jitu Mengelola Akuntansi Bisnis UMKM

Apakah Anda tahu studi  terbaru yang menunjukkan bahwa 50 persen dari Usaha Mikro-Kecil Menengah (UMKM) akan gagal dalam tahun pertama mereka? Bagaimana dengan fakta mengejutkan bahwa 95 persen akan menutup usahanya sebelum mereka meraih tahun ke-lima operasi? Yang terakhir terasa sulit untuk dipercaya, namun dengan ekonomi saat ini semua dapat terjadi.

Semua statistik ini adalah alasan mengapa Anda harus menganggap “angka-angka” sebagai hal yang serius, baik Anda memiliki tim yang membangun startup atau mengerjakan bisnis sampingan Anda untuk meninggalkan pekerjaan penuh-waktu di kantor.

Setiap bisnis, baik besar ataupun kecil memang tidaklah mudah. Anda harus menaruh banyak konsentrasi kepada bisnis Anda, mulai dari mengurus produk, alur penjualan, pemasukan dan pengeluaran dan tentunya mengelola “angka-angka” keuangan secara keseluruhan. Karena bisnis dijalankan untuk menguntungkan maka Anda harus dapat memutar modal dan menjual produk atau hasil bisnis sehingga menjadi menguntungkan.

Hal ini memang tidak mudah, karena banyak pengusaha yang bangkrut bukan karena kegagalan dalam berbisnisnya melainkan gagal dalam mengelola keuangan atau akuntansi. Berikut dalam tulisan blog ini adalah 5 tips utama yang dapat Anda perhatikan, untuk mengelola akuntansi untuk bisnis yang masih mendasar pun berukuran kecil.

1. Sistem Yang Jelas

Meskipun memiliki bisnis yang tidak berkembang atau belum berkembang terlalu besar, namun Anda harus bisa menilai mana yang paling dibutuhkan dalam mengatur bisnis. Tips pertama yakni sistem yang teratur dan benar. Dengan sistem yang benar dalam manajemen atau bisnis kecil, maka akan mudah mengelola akuntansi Anda. Sistem bisa berbagai macam, misalnya deskripsi pekerjaan, karyawan, alur kerja, sistem manajemen, penggajian karyawan, dan pengelolaan modal usaha. Jika sistemnya saja sudah salah, maka bisnis ini dijamin akan terus merugi atau bahkan hanya berjalan sementara. Seringnya bisnis kecil tidak mementingkan sistem karena merasa masih kecil, atau karyawan hanyalah teman-teman atau tetangga dan saudara. Padahal sistem yang benar akan membantu Anda.

2. Pembayaran yang Jelas

Dahulu dalam melakukan pembayaran dan kerjasama diharuskan menggunakan wesel, cash, dan lainnya. Namun di zaman modern seperti sekarang, uang sudah dapat ditransfer dengan mudah dan lebih aman. Sayangnya, pembayaran lewat bank tidak memiliki bukti pembayaran yang berbentuk fisik. Padahal hal itu sangat dibutuhkan untuk pembukuan dan laporan keuangan dalam bisnis kecil Anda. Mungkin Anda bisa mempermudahnya dengan pembayaran dan menyertakan bukti invoice ‘tagihan’ atau sejenisnya yang ditandatangani kedua belah pihak baik Anda sebagai pebisnis, atau mereka sebagai rekanan atau konsumen. Sehingga semua laporan keuangan terbukti lewat fisik dan tentunya aman.

3. Pembukuan

Meskipun bisnis kecil, tidak menutup kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kerugian tidak terduga, barang hilang, oknum yang tidak bertanggung jawab, atau karyawan yang berlaku curang dalam bisnis kecil Anda. Cobalah untuk membuat pembukuan rutin yang mencatat seluruh pengeluaran dan pemasukan secara jelas. Dengan begitu Anda juga bisa mengontrol seberapa banyak pengeluaran dan pemasukan setiap waktu tertentu misalnya perbulannya. Berapa keuntungan yang didapat atau berapa kerugian yang ditanggung. Pisahkan juga antara pembukuan keuangan pribadi dan bisnis kecil Anda agar tidak tercampur.

4. Jangan Tergiur Keuntungan

Ketika mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dari bisnis kecil Anda maka jangan tergiur akan hal tersebut. Sisihkan keuntungan Anda untuk mengelola keuangan bisnis dan alihkan ke dalam modal kembali. Buat bisnis Anda menjadi lebih berkembang dan lebih besar. Sehingga usaha Anda tidak selamanya kecil dan diam ditempat saja, beranikan untuk mengembangkan bisnis. Meskipun tidak mudah namun mengalihkan keuntungan menjadi modal tambahan juga termasuk tips mengelola akuntansi usaha agar tidak habis begitu saja, namun ditambahkan untuk membesarkan bisnis agar keuntungannya menjadi naik selanjutnya.

5. Pikirkan Rekrutmen Karyawan

Selanjutnya adalah rekrutmen karyawan yang harus dipikirkan. Di mana Anda jangan sembarangan merekrut, selain bisnis masih berukuran kecil, Anda juga memiliki keuntungan dan pemasukan yang masih terbatas. Pekerjakan karyawan sesuai dengan yang dibutuhkan saja, jangan melebihi kapasitas dan juga kekurangan karyawan sehingga Anda keteteran atau repot sendiri. Bagaimanapun mereka memiliki hak yang harus dipenuhi termasuk gaji, maka pikirkan juga hal tersebut karena termasuk dalam pengelolaan keuangan.

Mengelola akuntansi penting hukumnya meskipun Anda tergolong bisnis kecil. Bagaimanapun, flow atau alur keuangan dari usaha haruslah terlihat. Agar keuangan teratur dengan benar, apalagi masalah uang merupakan hal yang paling sensitif dan menyebabkan efek yang besar jika terjadi masalah dan salah satunya adalah kebangkrutan. Banyak usaha kecil yang akhirnya gulung tikar karena kesalahan pengelolaan atau mengatur keuangan.

Sumber: KompasSmall Biz Trends.

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

5 Kesalahan Besar UMKM Selalu Lakukan & Cara Mengatasinya

UMKM cenderung selalu membuat kesalahan yang dapat memcelakai anggota tim dan bisnis mereka. Tentu, adalah hal yang tidak realistis untuk mengharapkan bisnis apapun dapat berjalan tanpa masalah. Namun, jika Anda dapat mempelajari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pebisnis dan profesional yang sudah mengalaminya, maka Anda dapat menghindari kebiasaan buruk yang dapat merugikan bisnis Anda.

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang acap kali dilakukan oleh bisnis UMKM dan bagaimana cara mengatasinya.

Mengotak-ngotakkan Pegawai

Anda telah mendengar semua generalisasi tentang hal ini: Generasi Milenial malas bekerja. Generasi Baby Boomer tidak inovatif. Semua generalisasi tersebut tidak hanya menyinggung pegawai Anda, namun juga akan membuat bisnis Anda kehilangan suasana tim kerja yang baik.

Hal ini akan menyebabkan konotasi negatif sejak awal pada bisnis Anda. Orang  dapat merasakan ketegangan yang ada saat mereka pertama kali masuk dan pemilik bisnis sudah menetapkan bagaimana etika kerja yang ada dan bagaimana mereka saling bekerja sama

Solusi: Setiap bisnis sudah seharusnya mempekerjakan pegawai sesuai dengan kemampuan mereka, daripada berasumsi menurut usia atau urutan generasi. Karena faktanya, Anda dapat membangun tim multi-generasi,  bisnis Anda dapat diuntungkan dari suasana dan kondisi kerja yang sangat beragam.

Berikan pegawai Anda kesempatan untuk menunjukkan dirinya. Setiap generasi pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dan saat mereka semua bekerja sama adalah saat Anda mendapatkan hasil terbaik.

Memotong Harga untuk Bersaing

Saat mengalami kompetisi yang sengit, UMKM akan sangat tergoda untuk dengan mudahnya memotong harga produk atau jasa mereka agar lebih menarik konsumen. Namun, UMKM hanya akan mencederai bisnis mereka, karena perusahaan besar biasanya lebih memilih untuk kalah bersaing dan mempertahankan harga yang ada. Sehingga memotong harga sedemikian rupa tidak pernah menjadi solusi yang baik untuk UMKM.

Solusi: Daripada memotong harga habis-habisan, lebih baik Anda fokus pada menambah nilai pada produk atau jasa dengan banyak cara. Konsumen cenderung bersedia untuk membayar lebih untuk sesuatu yang menawarkan pengalaman baik. Jadi, kenali konsumen Anda dan cari tahu apa yang mereka inginkan dari sebuah pembelian.

Setiap pramuniaga akan mengatakan bahwa orang membeli sesuatu yang membuat mereka merasa baik. Anda harus mengajak berbicara satu persatu konsumen Anda dan menjadi kawan mereka untuk mengetahui apa yang mereka inginkan dan apa yang dapat mereka adaptasi dan sesuaikan dalam jentikan jari.

Terlalu Cepat Puas

Berhasil itu sangat menyenangkan. Namun itu bukan berarti Anda dapat segera puas setelah mencapai tujuan kecil bisnis Anda. Beberapa UMKM selalu jatuh pada lubang yang sama, setelah mereka mencapai keberhasilan yang samar. Ini dapat menuntun bisnis Anda jatuh jauh ke belakang dari kompetisi dan perlahan-lahab menjadi tidak relevan.

Solusi: Selalu ingat motivasi yang Anda miliki saat Anda baru saja memulai bisnis. Dan saat Anda mengandalkan para manajer dan anggota tim bisnis untuk membantu operasional keseharian bisnis, Anda harus selalu tetap perhatikan arah tujuan dari bisnis Anda.

Anda harus selalu merasa lapar dan menyimpan rasa lapar yang telah membawa bisnis Anda ke posisinya sekarang. Setiap pengusaha pasti merasakannya. Hal inilah yang membuat mereka memulai bisnis UMKM-nya. Namun, seiring bisnis yang bertambah besar dan besar, UMKM cenderung kehilangan pendekatan personalnya. Padahal mereka perlu memiliki inspirasi dari apa yang ada di balik pergerakan bisnis.

Menangani Isu Performa Pegawai dengan Cara yang Sama

Seiring tim Anda berkembang, Anda mungkin akan membuat bagian kepegawaian untuk menangani perekrutan dan hal kepegawaian lainnya. Namun, Anda harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam menangani semua isu performa kerja dengan cara yang sama. Ini justru akan membuat pegawai merasa lebih buruk dan berpotensi mengalami isu-isu lainnya yang akan berdampak pada performa kerja mereka.

Solusi: Daripada menyelesaikan semua permasalahan kepada bidang kepegawaian/personalia, Anda lebih baik berbicara dengan pemimpin tim yang mengalami masalah tersebut secara langsung. Hal ini tidak perlu berupa pembicaran kedisiplinan. Anda cukup mengajak para manajer dan pemimpin tim untuk bercerita dan tanya apabila mereka membutuhkan sesuatu. Menunjukkan dukungan emosional dan motivasional terkadang dapat lebih membantu daripada formulir kedisiplinan/surat peringatan.

Mengikuti Saran yang Umum

Ini bukan berarti bahwa Anda dilarang mengikuti saran bisnis apapun. Namun, banyak saran-saran bisnis di luar sana yang belum tentu cocok untuk diterapkan pada bisnis Anda. Dan mengikuti saran-saran umum tersebut dapat membawa Anda kepada kesalahan-kesalahan.

Solusi: Jika Anda mendengar atau membaca suatau saran atau rencana bisnis yang sepertinya tidak cocok untuk bisnis Anda, maka Anda tidak perlu mengikutinya. Ikutilah insting Anda atau carilah saran ahli dari profesional yang dapat memberikan Anda saran sesuai dengan kondisi bisnis UMKM Anda.

Setiap situasi adalah berbeda. UMKM dan perusahaan besar semua memiliki karakternya masing-masing dan harus melakukan yang terbaik untuk bisnis mereka. Dan keberhasilan utama dari seorang konsultan adalah mencari cara untuk meningkatkan setiap bisnis kliennya.

Artikel ini diterjemahkan oleh tim FMB Consultant dan dikutip dari Small Biz Trends.

 

Read more

Hal yang Boleh dan Jangan dilakukan dalam Content Marketing untuk UMKM

Jika Anda sering memperhatikan strategi digital marketing sejak memulai bisnis Anda, tentu Anda tahu jika content marketing adalah kunci untuk meningkatkan traffic pada situs web Anda. Jika Anda telah mengembangkan produk-produk baru dan ingin menyuarakan rencana bisnis Anda, yang perlu dilakukan hanyalah membuat bisnis Anda dikenal melalui konten yang menarik. Konsep konten yang menciptakan dan berbagi sesuatu bernilai, relevan dan konsisten untuk target khalayak Anda sangatlah penting untuk meningkatkan penjualan baik dalam waktu cepat atau jangka panjang.

Bagaimanapun, sebagai bisnis UMKM ataupun startup, kemungkinan yang ada adalah belum terkumpulnya banyak prestasi dan cenderung membuat kesalahan yang sama seperti bisnis-bisnis lainnya yang serupa. Untuk alasan itu, penting untuk Anda memperhatikan apa yang ditemukan oleh industri bisnis Anda sebelum Anda terjun ke dalam pasar bisnis yang ada.

Content Marketing

Temukan target khalayak Anda

Setiap konten tidak selalu memiliki kekuatan untuk melibatkan semua konsumen. Sama halnya dengan kebanyakan produk tidak didesain untuk selalu cocok dengan semua orang. Sebagai contoh, Anda tidak mungkin mencoba menjual lemari es kepada remaja berusia 15 tahun. Karenanya, Anda perlu mencari dan mendefinisikan target khalayak bisnis Anda dan membuat konten yang relevan terhadapnya.

Jangan Terlalu Agresif

Sebuah blog perusahaan yang bagus akan mengajak khalayak untuk membuat keputusan pembelian, sementara mereka mengingat bahwa tidak ada seorangpun yang suka untuk dipaksa melakukan sesuatu. Sebuah blog yang asertif (tegas, mengontrol) dan terlalu promosional hanya akan membuat konsumen Anda lari. Konten promosi yang multifungsi memang dianjurkan untuk dibuat, namun cobalah untuk lebih mengarahkan konten pada sisi mengedukasi dan menghibur konsumen daripada hanya promosi.

Bertemanlah dengan Konsumen

Anda tidak akan pernah tahu sebaik dan sejauh apa strategi konten Anda sukses hingga Anda menerima ulasan dari para konsumen. Jangan beranggapan ulasan tersebut akan datang dengan sendirinya; Anda perlu cari tahu. Buatlah survei, tanyakan keterlibatan media sosial, dan mulailah percakapan untuk menentukan arah diskusi para konsumen yang dapat membantu konten Anda ke depannya.

Anda mungkin sudah pernah diberitahu bahwa kunci agar tidak tertinggal oleh saingan adalah untuk mengikuti media sosial mereka dan rajin memperhatikan kampanye marketing yang dilakukan. Hal ini sangat membantu untuk mengumpulkan informasi, namun juga dapat mencekik Anda. Mengalahkan saingan Anda memerlukan kemunculan ide-ide baru dan taktik yang dapat menarik khalayak kepada bisnis Anda. Mengikuti dan meniru strategi bisnis lain terlalu dekat akan membuat bisnis Anda tidak otentik dan sulit dikenal.

Gunakan Desain yang Profesional

Blog dan situs web Anda tentu harus didesain dengan profesional, baik untuk tampilan layar komputer maupun ponsel. Tujuan utama dari strategi content marketing adalah untuk membuat khalayak mengunjungi situs web Anda, melakukan pembelian atau sering membaca konten. Jika tampilannya tidak terlihat baik dan profesional, akan sulit untuk Anda membuat khalayak berlama-lama di situs web Anda.

Jangan Mencuri atau Menduplikasi Konten

Plagiarisme adalah pelanggaran yang serius dalam dunia content marketing, suatu pelanggaran yang akan menodai brand bisnis Anda. Terlebih lagi, jauhi duplikasi konten, hal ini terjadi bila Anda memperkerjakan penulis dari pabrik konten. Duplikasi/mensontek konten tidak hanya membuat brand Anda terlihat buruk, namun juga berpengaruh buruk pada urutan Anda pada algoritma Google SEO.

Fokuslah pada Branding

Jika seseorang membaca konten Anda dan cukup menyukainya untuk terus membagikannya berkali-kali, maka Anda dapat berharap bahwa brand Anda adalah unik dan menonjol untuk mereka mengasosiasikan nama merek Anda dengan betapa baiknya konten yang ada. Penyebaran luas sebuah konten yang efektif adalah salah satu metode untuk membangun brand awareness. 

Jangan Terlalu Fokus pada Diri Sendiri

Meskipun Anda ingin membangun nama brand Anda, jangan terlalu fokus kepada diri sendiri. Pembaca menyukai media tempat mereka terlibat untuk lebih fokus pada edukasi dan menghibur, dan konten yang selalu bercerita tentang brand Anda hanya akan membuat mereka menjauh. Terlepas dari hal tersebut, banyak jenis media sosial yang mulai mempinalti postingan promosi.

Pada akhirnya, trik untuk menguasai content marketing adalah seputar mencari keseimbangan. Content marketing memang bukanlah medium yang mudah, namun tidak akan menjadi sulit bila sudah melalui riset dan trial and error. Ini adalah jalan yang semua perusahaan besar telah lalui, dan lebih cepat Anda memulai, lebih cepat pula bisnis Anda mencapai urutan teratas.

Read more

5 Expert Tax Tips for Small Business Owners

There are many things happening in first quarter of 2017, promotions, resolutions, and other new beginnings. Not to forget the tax season that has officially begun, and like your grandmother, the Directorate General of Taxes (DGT) would love to hear from you sooner rather than later.

The Nav has reached out to a few experts to shed some light on the most helpful tips they’d give to small business owners. We have adjusted the tips to apply to Indonesians small business owners (UMKM) as they gear up for that all-important March 31 deadline.

Here are five things that you’ll want to consider as you prepare to contribute to what the nation’s needed the most:

ilustrasi-pajak

  1. Consider hiring a tax professional

Service like OnlinePajak is tax deductible for small businesses, but depending on your situation, you may want a more customized experience. According to Avo Asdourian MBA, EA, AFSP, “hire a tax professional who specializes in the business industry.” Managing your taxes can be highly complicated.

While software like OnlinePajak will help facilitate the process, some business owners may opt to supplement that software with an accountant that is familiar with the intricacies of taxes for the business industry.

As your business grows and your accounting gets more complicated, hiring a certified professional accountant (CPA) might make all the difference. But don’t wait too long before scheduling your meeting with them (more on that later).

  1. Get all the deductions you qualify for

Austin Carlson, an associate at Gray Reed & McGraw and Certified Public Accountant, had this to say about deductions:

“Many small business owners don’t realize that when they use any of their personal assets for business purposes, such as a laptop, home office, or car, they can get a tax deduction for that business use.”

“For more savvy business owners, understanding the rules between business and personal purpose for travel can help maximize deductible travel fully within the DGT rules. Finally, the biggest tax benefits can often be found in taking advantage of the huge tax deferral opportunities for small business owners offered by the DGT for retirement planning.”

  1. Prepare all year long by saving receipts and tracking expenses

Let’s think about doing taxes in a bit of an abstract way for a minute and compare it to a race. But not just any race–doing taxes can feel like a marathon. You wouldn’t try running a marathon a week after starting training, and you shouldn’t put off preparing your taxes until the last minute. Just because taxes aren’t due until March 31 doesn’t mean you should think that’s the only time of the year you should think about them.

In this article covering the basics of bookkeeping, several topics are covered, including how to understand your business profit and loss. Jennifer Lobb from Nav.com on her article talk about bookkeeping as a year-long event, and that means you’ll need to keep track of your expenses and other transactions over that 365-day period.  Sometimes, particularly if you’re a new business owner, you may not know what receipts you should keep or which expenses can be deducted come tax time.

“Saving receipts, no matter how small they are, will help you track your expenses and will help your accountant or bookkeeper get a clear and concise picture at the end of the year.”

“Tracking and analyzing these expense receipts, preferably using an app made specifically for businesses, will also enable you to understand labor costs or costs associated with specific clients or projects.”

Don’t forget that running a business is a marathon, not a sprint. Instead of ignoring taxes all year long and scrambling in March, take small strides all year long so that you’re never caught unaware.

  1. Get accounts exclusively for your business

Be sure you’re not in the 20% of business owners who make this mistake. Avoiding mixing accounts makes things easier at tax time–but more importantly, it makes things easier in the long run. Crystal Stranger, EA, President of 1st Tax gave us an inside look at an issue holding business owners back:

“I’d say the biggest mistake I see is commingling of funds: when business owners use personal bank accounts to pay for business expenses or pay personal expenses out of business accounts. Sorting out which items really were business-related creates a mess at tax-time, and if you’re audited years later, it’s even tougher to work through.”

“This is especially challenging if the business is structured as an S-corp because the money transferred to the business is deemed capital contributions, and the amounts transferred back to the taxpayer are sorted as being general distributions, rather than repayment of a loan. This means the taxpayer can end up with a deemed “wage” even if the business did not make a profit, and owe thousands in payroll taxes on the money transferred out of the company.”

Of course, you can avoid this issue before it ever begins by separating your personal and business finances. In addition to helping you keep your accounts straight, getting a credit card that you use exclusively for business-related purchases also helps you build your business credit score.

  1. Anticipate how much you’ll owe

Prognostication isn’t just for wizards and merpeople anymore–you too can predict the future! Alright, that’s not really what we’re talking about, but there are steps you can take to be well-prepared and have a good idea of what awaits you in tax season.

Once again, Jennifer Lobb has some advice that applies to tax season, this time covering how you can anticipate long and short-term expenses:

“You can’t determine future revenue, but you can predict it by reviewing past revenue cycles and tax returns to help you get an idea of what you may owe. Additionally, you’ll want to review revenue on a regular basis (monthly or quarterly, for example) and calculate taxes owed.”

As you review your income throughout the year, you’ll be able to better predict–and set aside–your anticipated taxes. When done correctly, there should be no sticker shock when the time comes to file.

Keep these things in mind as you prepare for this year’s taxes, and it’ll feel like another regular day instead of an DGT-led apocalypse. Even if it seems like an insurmountable task, remember that there are plenty of things you can do today to get the process started.

Official LinkedIn Page
E-mail: admin@fmbconsultant.com

This article is modified with moderation and originally posted on Nav.com by Joshua Jonstun.

Read more

Peranan Pemerintah untuk Mengembangkan UMKM di Indonesia

Di salah satu tulisan saya sebelumnya, saya menyatakan bahwa untuk menjadi negara maju, pemerintah kita perlu memberi dukungan dan menstimulasi tumbuhnya wirausaha atau pemilik UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).

Kok begitu? Kenapa untuk maju, Indonesia perlu banyak wirausaha atau UMKM? Apa hubungan antara banyaknya jumlah wirausaha atau UMKM di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi (pendapatan) negara kita? Bukannya malah dengan semakin banyaknya wirausaha / UMKM, ekonomi kita akan semakin beresiko? Bukannya banyak wirausaha yang bangkrut dan akhirnya malah menyusahkan negara? Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin muncul di pikiran kita pada saat saya bilang untuk menjadi negara maju, negara kita perlu memperbanyak jumlah wirausaha.

Untuk itu mari kita coba kupas satu-satu, kenapa, apa dan bagaimana peranan pemerintah kita seharusnya untuk menumbuhkan dan mengembangkan kewirausahaan dan UMKM di Indonesia.

 

1.   UMKM mendominasi perekonomian Indonesia

Data Kementerian Koperasi dan UMK di tahun 2012 menyebutkan bahwa sektor UMKM itu menyumbang sekitar 59.03% dari GDP Indonesia dan menyerap 97.16% tenaga kerja (sekitar 107 juta tenaga kerja).

Sumber : Kementerian Koperasi dan UMKM (2012)

Dari data diatas kita bisa lihat betapa pentingnya kontribusi UMKM untuk perekonomian Indonesia. Namun sayangnya besarnya peranan UMKM ini belum didukung oleh pemerintah Indonesia yang bisa dilihat dari belum meratanya akses UMKM ke lembaga keuangan, hanya sekitar 25% (13 juta) pelaku UMKM yang mendapatkan akses ke lembaga finansial (bank).

Padahal dengan dukungan pemerintah dan program pengembangan keahlian yang tepat, UMKM Indonesia tidak hanya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar tapi juga menciptakan tenaga kerja yang berkeahlian dan berpenghasilan tinggi

 

2.   Faktor kunci pertumbuhan kewirausahaan / UMKM

Setelah tahu kalau wirausaha itu memang penting untuk ekonomi Indonesia, pertanyaan selanjutnya mungkin hal – hal apa sih yang harus diperhatikan untuk menumbuhkan kewirausahaan di Indonesia?

Menurut Monitor Deloitte, perusahaan konsultan manajemen terkemuka dunia, untuk menumbuhkan kewirausahaan ada 4 (empat) faktor utama yang diperlukan yaitu : (1) tenaga kerja, (2) modal yang tidak harus selalu dalam bentuk uang, namun bisa juga dalam bentuk asset intangible seperti merk atau pengetahuan / penemuan yang inovatif, (3) teknologi penunjang seperti internet, dan (4) dukungan regulasi dari pemerintah.

Sumber : Monitor Deloitte

 

3.   Regulasi untuk Pengembangan UMKM

Dukungan regulasi dari pemerintah sangatlah penting untuk pengembangan UMKM. Namun, jenis regulasi seperti apa yang perlu dikeluarkan oleh pemerintah agar dunia kewirausahaan bisa tumbuh pesat di Indonesia?

Menurut Monitor Deloitte, untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan, ada empat hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia yaitu

  • Aset Kewirausahaan, pemerintah mengatur agar UMKM bisa meningkatkan aset yang mereka miliki melalui akses ke pembiayaan, peningkatan kapabilitas / keahlian serta penguatan infrastruktur pendukung & teknologi  
  • Layanan Bisnis, pemerintah menyediakan layanan penunjang berupa program pendampingan, pengembangan bisnis dan komersialisasi teknologi
  • Akselerasi Bisnis, pemerintah membantu UMKM untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis melalui pemberian insentif pajak / fiskal, menumbuhkan iklim persaingan yang sehat dan memotong biaya administrasi yang tidak perlu
  • Motivasi, pemerintah merubah / membentuk pola pikir yang positif tentang wirausaha.

Sumber : Monitor Deloitte

Nah, setelah pemaparan diatas, saya harap semakin banyak orang mengerti tentang pentingnya UMKM untuk Indonesia dan memiliki pengetahuan yang lebih mendalam lagi tentang inisiatif-inisiatif yang perlu dilakukan pemerintah untuk menjadikan Indonesia menjadi negara maju. #IndonesiaBisa #UMKMKuat #YukBerwirausaha

Artikel ini pertama kali ditulis di laman LinkedIn resmi Apung Sumengkar.

 

Tentang Penulis

Apung Sumengkar adalah praktisi dengan spesialiasi di manajemen strategi dan kewirausahaan. Lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia, International MBA program dari RSM – Erasmus University, dan saat ini sedang mengikuti program Doktor Manajemen Stratejik di Universitas Indonesia.
Twitter: @apungsumengkar LinkedIn: Apung Sumengkar

Read more