Skip to main content Skip to search

Marketing

Munculnya Virtual Influencer: Ancaman untuk Influencer Marketing?

Sebagai salah satu saluran marketing (pemasaran) online (daring) yang paling cepat berkembanginfluencer marketing (pemasaran influencer) menjadi sangat popular di 2017 dan tren ini terus berlanjut di 2018. Berdasarkan survei The State of Influencer Marketing 2018 dari Lingia, sebanyak 39% marketers tengah berencana untuk terus menambah angka anggaran influencer marketing mereka di 2018 dan hingga 66% darinya akan dipergunakan untuk merek-merek mewah. Dengan terus berkembangnya ide dan angka anggaran pemasaran, maka terciptalah tipe influencer terbaru yang melebur dan tergabung dalam cakupan influencer sosial yaitu virtual influencerMenuju pertengahan 2018, semakin banyak brand yang menciptakan virtual influencer.

Kita semua tahu, bahwa juru bicara dan endorser tidak dapat ditebak. Persona yang nekat dan membahayakan dapat memberikan public relations (PR) yang negatif dan dapat merusak brand. Namun, bagaimana bila kita bisa mengeliminasi itu semua—ancaman tak terduga dari seorang juru bicara sekaligus tetap menambah jumlah pengikut influencer tersebut? Memang, menukar influencer besar sekelas Keluarga Kardashians dengan virtual influencer terdengar seperti mimpi yang terwujud, karena virtual influencer dapat terhadang dengan masalahnya sendiri.

Fenomena terakhir tentang virtual influencer adalah Shudu Gram dan Miquela Sousa. Shudu dibuat dan diumumkan sebagai supermodel digital pertama di dunia sementara Miquela, atau yang dikenal sebagai Lil Miquela, dikenalkan sebagai virtual influencer. Lil Miquela adalah influencer kategori mega berumur 20 tahun yang kini sudah memiliki pengikut sebanyak 1,2 juta orang di Instagram dan bahkan memiliki satu single di Spotify yang berjudul “Not Mine”.

Shudu Gram (kiri) adalah model kosmetik superstar Rihanna—Fenty Beauty. Miquela Sousa (kanan) adalah computer-generated influencer yang mendukung aksi sosial seperti Black Lives Matter dan juga model iklan untuk Prada.

Pada pandangan pertama, mungkin Anda tidak akan curiga dan melihatnya sama saja seperti influencer lainnya yang juga Anda lihat di platform media sosial yang sama. Lil Miquela memiliki persona yang dapat mempengaruhi opini, tingkah laku dan sikap orang lain atau pengikutnya sama seperti influencer lainnya kecuali dia adalah kepribadian 3D yangdihasilkan-komputer (computer-generated).

lil miquela fmb partner influencer

Lil Miquela di acara wawancara dengan V Magazine.

Betul, Lil Miquela tidak nyata.

Ia adalah influencer yang diciptakan oleh Brud, sebuah perusahaan yang berbasis di Los Angeles yang memiliki tujuan pengembangan robotika dan kecerdasan buatan dalam bisnis media. Namun meski Lil Miquela tidak ada di kehidupan nyata, ia tetap ada di Instagram mengunggah kegiatannya sehari-hari seperti manusia (dan kehidupannya yang diimpikan para generasi muda, tentu saja) pada umumnya. Ia kemudian dikenal sebagai virtual influencer.

Virtual influencer memiliki rutinitas bekerja secara daring sama layaknya dengan apa yang dilakukan influencer manusia. Brand menginginkan kedua tipe influencer ini untuk memiliki cara kerja yang sama agar mereka dapat masuk ke basis penggemar dengan mudah. Meski mereka sebenarnya tidak berperan sebagai brand ambassador, cukup dengan popularitas mereka, tentu dapat menarik perhatian perusahaan besar untuk memberikan endorsement deals. Seperti Shudu yang baru saja menjadi model lini kosmetik superstar Rihanna—Fenty Beauty dan fotonya pun menjadi viral di Instagram brand tersebut. Sedangkan Miquela berhasil mendorong Prada dan Chanel meningkatkan reputasi brand mereka di internet.

Anda mungkin bertanya-tanya: Jika virtual influencer sangat menyerupai manusia, terasa nyata dan akan semakin populer dan viral, apakah saya masih perlu memakai jasa influencer manusia untuk memasarkan produk?

Apakah tren ini akan semakin kuat bertahan atau virtual influencer akan terbukti membosankan di kemudian hari adalah salah satu kekhawatiran. Pada akhirnya, aset tak terjangkau yang bercampur dengan kesalahan fatal pada manusia di kehidupan nyata adalah yang mendukung kepentingan publik. Selebriti memiliki masanya. Konsumen dikenal dengan kemampuan untuk mengangkat tokoh publik, menjatuhkan mereka, pun bersorak untuk comeback mereka. Ketidaksempurnaan inilah yang pada akhirnya menciptakan koneksi dan engagement (keterlibatan)—dua hal yang sangat penting untuk influencer marketing.

Virtual influencer menghasilkan interaksi dan keterlibatan baik bagi brand dan pengikutnya.

Lil Miquela mungkin tidak “nyata” secara fisik namun dia adalah fashion icon dan berkolaborasi dengan fashion brand dan selebriti ternama. Seperti contoh, dia tidak hanya “menghadiri” pagelaran busana Prada F/W 18-19 namun juga berpartisipasi pada kampanye perilisan fitur ekslusif GIF di Instagram.

Dengan bekerja sama untuk mempromosikan kecantikan dan produk, brand memanfaatkan audiens Miquela dan menemukan cara untuk menjangkau millennials dan membangun engagement dengan mereka.

Komunitas besar pengikut Lil Miquela dapat dijelaskan dengan pendekatan pribadi dirinya dan caranya untuk lebih dekat dengan para “Miquelites” (penggemarnya” dan berinterikasi dengan mereka secara langsung dan selalu berusaha membalas banyak pesan yang dikirimkan penggemar secepatnya.

Seperti yang dinyatakan seorang jurnalis di Medium, “Kita sebagai manusia dan konsumen mencari influencer yang memberikan kita autentisitas dan hubungan yang alami; mereka yang merepresentasikan sebuah koleksi dari berbagai ketertarikan… sudah menjadi sifat kita untuk menemukan dan terhubung dengan mereka yang memiliki kepribadian, pemikiran, perasaan, dan aspirasi yang sama dengan kita.”

Pengaruh Lil Miquela atau virtual influencer terletak pada kemampuan mereka untuk menciptakan hubungan one-on-onedengan ratusan ribu pengikut mereka dan dengan demikian menciptakan engagement yang autentik.

Virtual influencer: ancaman untuk autentisitas?

Pertanyaan pertama yang muncul di benak kita adalah: apakah virtual influencer dia asli dan jujur?  Setiap posting Instagram Lil Miquela menunjukkan komentar-komentar yang mirip dan pertanyaan-pertanyaan yang serupa (lihat foto di bawah). Untuk orang-orang yang tidak menganggap virtual influencer sebagai influencer “nyata”, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai autentisitas mereka sebagai seorang influencer.

@lilmiquela di Instagram.

@lilmiquela di Instagram.

“Pentingkah bagi brand dan publikasi jika seorang influencer adalah hasil dari computer yang tergenerasi (computer-generated), jika pada akhirnya mereka tetap memiliki pengaruh yang sama bahkan lebih dari influencer yang “nyata”adalah jawaban Christopher Morency, jurnalis dari publikasi Business of Fashion. Sejatinya, peran seorang influencer yang utama adalah untuk menjadi inspirasional dan terpercaya. Namun, di kehidupan sehari-hari kita, semakin banyak bertambah orang-orang yang menginginkan asisten virtual seperti Siri dan Alexa  untuk membantu pencarian sesuatu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Lalu, mengapa kita tidak mengikuti juga sebuah avatar CGI seperti Lil Miquela dan mendengarkan saran fashion-nya?

Akhirnya, kita telah melihat virtual influencer mengaburkan garis antara “nyata” dan “virtual”. Kita sudah coba menjawab berbagai pertanyaan yang berbeda: Penting atau tidaknya seorang influencer bila mereka adalah virtual jika mereka tetap dapat berpengaruh? Apakah mereka autentik? Apakah mereka influencer yang “nyata”?

Kami pikir, selama mereka—virtual influencer dapat meraih popularitas dan membangun engagement, kita hanya dapat untuk menerima mereka ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Mereka juga merepresentasikan banyak kesempayan baru untuk brand dalam potensi kolaborasi. Hal ini tetap dilihat sebagai peluang yang dapat membawa influencer marketing ke masa depan dan influencer yang “nyata” terutama dengan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelligence ‘AI’).

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

7 Best Ways to Get Your Content to Stand Out

It’s not that your content sucks…in fact, it might even be pretty darn good. It’s just that every minute of every day, there are 1,300 more blog posts, 360,000 more tweets, 1.7 million more Facebook posts and 2 million more videos uploaded to YouTube. And that only accounts for a few channels. Which means your content is simply being drowned out in an ever-quickening deluge of words and images.

So what’s a content marketer like you to do? We suggest the following seven ways to stand out from the crowd.

Standing Out from Thinkstock

Rally Around Your Purpose

Too many content programs are created in isolation without a clear connection to a company or brand’s reason for being. If you can’t answer why your company is in business, chances are your content lacks a purpose as well. For example, Jennifer Dominiquini, CMO of BBVA Compass, connects all of the organization’s marketing activities through its “banking on a brighter future” promise. The result is content that is inspirational to employees and customers alike.

Hire Talented Storytellers

Humans are hard-wired to respond favorably to emotional stories, yet 98% of branded content lacks any of the elements of good storytelling (narrative, conflict, character development, etc.). To address this, some brands like IBM, GE and Cisco have hired professional storytellers from Hollywood, magazines and even comedy troupes. Others have turned to agencies who have embraced the tenets of storytelling and trained their teams accordingly.

Embrace Quality Over Quantity

As brands feel compelled to fill up their content calendars, the overall quality-per-piece tends to decline, which has a compounding deleterious effect on future readership. One brilliantly written post by your CEO is worth at least 12 by your junior marketing manager. Authorship matters, as does authority. Warren Buffett writes one shareholder letter each year and it is prized among its many readers. For inspiration, take a look at some of these top-ranked blogs by CEOs.

Become an Ongoing News Source

Have you heard of Quinnipiac? How about Bard? We’ll guess you answered yes to the first and no to the second. Why the huge discrepancy in awareness? Quinnipiac has become famous for its polling, the results of which are quoted in the media all the time. The lesson here for savvy marketers is clear — become a news source by gathering your own research data that can also be used to inform customer service, product development and employee recruiting.

Give Your Best a Boost

Let’s assume you’ve followed the tips above and have created what you think is an extraordinary piece of content. Now it’s time to post and pray, right? Wrong. Even great content deserves, or more to the point, requires a boost from paid media. On Facebook, this is particularly easy because the site will tell you when a post is doing better than average organically—and those are the posts to support even if you are doing so against a finite audience.

Extend with Unique Content-Driven Events

As screens, and especially mobile devices dominate our lives, we are anticipating a counter-trend toward the need for actual human contact. Brands that recognize this trend and create events that bring people together will have the dual opportunity to bond with their customers and capture content that can extend the value of the event indefinitely. IBM has had great success with this approach, most recently with the launch of World of Watson.

Test, Test and Test Some More

Since taking over as publisher of Social Media Explorer, we’ve conducted an endless stream of tests helping to increase site traffic by 50%, increase time on the site by 20%, decrease bounce rate, double our email subscribers, increase our newsletter open and click-through rates while lowering our opt-out rate. We’ve tested headlines (sadly, “listicles” always win), images (don’t go overboard with animated gifs) and author types (influence matters). And the testing continues.

 

This post was originally published by Drew Neisser on SocialMediaExplorer.com 

Read more