Skip to main content Skip to search


What CPAs Need to Know on Blockchain

By strict definition, blockchain is a global digital ledger of economic transactions that is transparent, continually updated by countless users, and considered by many as almost impossible to corrupt or hack.

But in the broader sense, blockchain is also a lightning rod for highly charged opinion, confusion, and even fear. Some argue that blockchain will completely transform finance, accounting, and auditing. Others are decidedly more circumspect regarding its impact. And a certain segment is nervous, not knowing whether blockchain will make portions of the accounting profession obsolete—perhaps large ones, specifically as it relates to the current audit and tax practices focusing on compliance.

“I don’t think it is going to cut our profession out,” L. Gary Boomer, CPA/CITP, CGMA, former CEO of Boomer Consulting, and now the company’s strategist and visionary, said in an interview. “But one of the things we have in our profession is the Rube Goldberg machine: A lot of processes that maybe don’t add value. If you’re not adding value, you’d better figure out how you’re going to provide value in the future.”

Boomer, covered a topic that might seem intimidating given that blockchain is not only new—less than 10 years old—but also enigmatic even for the most intelligent finance professionals. “There’s much of it that is different, complex, and hard to understand with current mindsets,” Boomer acknowledged.

There’s also the misconception that blockchain will smack the financial world with an immediate, tsunami-like force. “This is more of a transformation, and we are in the early stages of it,” Boomer noted. “So we need to know the right questions to ask: Where is this going to have the greatest impact on the accounting profession, and what is the timeline of that?”

As to the timeline part, blockchain’s ascent continues to accelerate. “No one was talking about it before 2008,” Boomer said. “Then in 2013 we started to see the rise of bitcoin, a blockchain consortium in 2015, and proof of concept in 2016.” He expects that blockchain may begin to replace legacy accounting systems around 2023, “and by 2025 it will be widely accepted.”

And insofar as the impact it will have, much depends on how finance professionals educate and position themselves during the run-up. Boomer stressed that once CPAs understand the basics of blockchain, they can move toward learning how to harness it. “It’s going to provide opportunities if we have the right mindsets, skill sets, and tool sets,” he said.

To that end, Boomer highlighted a number of crucial concepts that help explain blockchain and give insight into its value propositions for the accounting profession.

1. Blockchain is secure and immutable

“While everyone thinks of the internet as public, blockchain protects transactions and increases the security and privacy,” Boomer said. In theory it cannot be hacked because that would require overpowering all the computers that contribute to and update the ledger network—a feat akin to hijacking the entire internet.

2. Think of blockchain as the ‘internet of value’

As opposed to focusing on the exchange and transmission of information, the internet of value centers on transactions. That concept also gives a clue to where blockchain’s impact on accounting will be felt first.

Boomer related that “the big questions I always hear and that most practical CPAs have is, ‘What’s the killer app, and what’s going to happen first?’” He believes that the first movers will be in accounts payable and receivable, with either intercompany transactions or client-customer transactions. “It will verify the payment, the dates, and there will be no question that the buyer sent the payment. Buyer and seller have to collaborate, so as a result there’s no confusion. Blockchain is built on trust, and we need more trust in transactions.”

3. Blockchain data will create new business opportunities

Boomer noted that because the speed of transactions on blockchain is increased significantly, “this has value for the audit, which is typically performed months after the fact. It will be faster and cheaper, but I don’t think auditors should throw in the towel.”

Instead, they will need to develop a more datacentric approach. “They have to be more involved with the data and use it with a forward rather than historic perspective,” Boomer said. “The result is a higher-valued service.

4. Studying up on blockchain will pay off

Boomer contended that finance professionals must make time now to learn all they can about blockchain. He recommended Don and Alex Tapscott’s book Blockchain Revolution: How the Technology Behind Bitcoin Is Changing Money, Business, and the World. Don Tapscott has also given a popular TED talk on the subject, now seen more than 1.6 million times. The Big Four accounting firms, he added, have also released white papers and studies on blockchain that are worth seeking out.

Accountants who get a grip on blockchain today will be the ones who successfully pivot their services tomorrow. “Banks are an incumbent that could lose business to blockchain, so they’re looking for ways to reduce the cost of their transactions and protect their turf,” Boomer said. “Accountants need to do the same—to not only protect the brand and its reputation, but look for ways to offer new services.”

In the meantime, take heart that many of your peers are still trying to fully wrap their heads around blockchain—including Boomer. “I’ve spent a ton of time studying blockchain the last three years, and it’s about getting connected to the right resources,” Boomer said. “We’re all learning. When you couple the blockchain with a cryptocurrency, artificial intelligence, the internet of things, smart contracts, and robotics (automated processes), the possibilities increase exponentially.”

This article is originally posted and written by Lou Carlozo on Journal Accountancy.

Read more

Cara Cerdas Mengelola dan Menyimpan Uang


Meskipun Anda terhitung millenials ataupun tidak, baik masih merintis ataupun sudah sukses, sebelum Anda mulai membuat uang dari bisnis, penting untuk Anda mencari tahu bagaimana cara mengelola keuangan seperti: menerima pembayaran, menerapkan syarat & ketentuan pembayaran tersebut, dan mengelola keuangan Anda yang tepat.

Ilustrasi: My Domaine

Untuk itu dengan artikel ini, terdapat beberapa hal yang akan membantu:

  1. Mendapatkan bayaran

Mendapatkan bayaran dapat menjadi rumit karena Anda harus mengelola operasional bisnis dan juga menjaga arus uang Anda dengan lancar. Pemahaman atas cara mengelola keuangan  yang tepat waktu harus menjadi prioritas, bahkan jika Anda memilih untuk menyewa seorang akuntan atau pembukuan untuk mengelola keuangan Bisnis Anda. Anda masih perlu untuk membiasakan diri dengan pembukuan dan pengelolaan uang prinsip-prinsip dasar dan kegiatan seperti memahami kredit, membaca laporan bank dan formulir pajak, dan membuat evaluasi piutang dan hutang.

Anda juga harus memberikan pertimbangan hati-hati dengan pilihan cara pembayaran pelanggan Anda, termasuk uang tunai, cek, kartu debit, kartu kredit dan pilihan pembayaran online, serta membangun syarat pembayaran dan penagihan utang jika terjadi gagal bayar.

  1. Membuka Rekening Bank

Setelah memilih nama dan mendaftarkan bisnis Anda, Anda akan perlu untuk membuka rekening bank komersial sebagai salah satu dasar cara mengelola keuangan. Menyiapkan rekening bank bisnis mudah. Mulailah dengan memilih bank yang Anda memberikan Anda kemudahan dalam berbisnis. Pada umumnya pada saat , Anda membutuhkan identifikasi pribadi serta identifikasi bisnis Anda kertas pendaftaran dan izin usaha, karena ini biasanya diperlukan untuk membuka rekening bank komersial. Langkah berikutnya adalah untuk deposit dana ke rekening baru Anda.

Jika Anda memiliki kredibilitas yang bagus di mata bank, Anda juga perlu meminta bank untuk melampirkan jalur kredit ke akun Anda, yang dapat sangat berguna ketika melakukan pembelian untuk bisnis atau selama periode penjualan melambat untuk menutupi biaya overhead hingga bisnis Anda naik kembali. Juga pastikan untuk bertanya tentang rekening kartu kredit merchant, rekening debit, dan layanan bisnis kecil lainnya.

  1. Pembukuan

Dasar berikutnya dalam cara mengelola keuangan ialah ketika tiba saatnya untuk menyiapkan buku keuangan Anda, Anda memiliki dua pilihan – melakukannya sendiri atau menyewa seorang akuntan atau admin bagian pembukuan. Anda mungkin ingin melakukan keduanya dengan menjaga buku-buku Anda sendiri dan menyewa seorang akuntan untuk menyusun laporan keuangan akhir tahun dan formulir pajak. Jika Anda memilih untuk menyimpan buku-buku Anda sendiri, pastikan Anda mengerti tentang prinsip-prinsip dasar akuntansi karena bila tidak maka investasi dalam perangkat lunak akuntansi seperti Zahir atau Accurate akan menjadi hal yang tidak terpakai. Namun bila Anda memiliki pemahaman yang cukup atas akuntansi maka program software akuntansi memberikan kemudahan untuk Anda seperti membuat faktur, melacak saldo rekening bank dan informasi merchant account, dan melacak hutang dan piutang.

Ilustrasi: Investopedia

Jika Anda tidak yakin tentang kemampuan pembukuan Anda bahkan dengan bantuan perangkat lunak akuntansi, Anda mungkin ingin menyewa akuntan untuk melakukan buku Anda secara bulanan dan akuntan untuk mengaudit buku-buku triwulanan dan menyiapkan laporan bisnis akhir tahun dan pajak kembali. Untuk menemukan seorang akuntan atau pembukuan Anda dapat menghubungi FMB Consultant.

Demikian artikel “Cara Cerdas Mengelola dan Menyimpan Uang” bagian pertama. Follow our blog and LinkedIn for more updates!

Read more

7 Cara Mengatur Pengeluaran Bisnis UMKM

Kondisi perekonomian yang tidak menentu membuat para pelaku usaha kecil dan menengah harus lebih siap dalam perencanaan pengeluaran. Misalnya dalam hal biaya produksi, biaya operasional, sampai gaji karyawan harus diperhitungkan dan di rencanakan secara matang, agar efisiensi tetap terjaga tanpa harus berpengaruh pada kinerja perusahaan.

Dalam mengatur manajemen keuangan sebuah bisnis sebenarnya gampang-gampang susah. Anda tidak hanya membutuhkan daftar rincian kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan, namun juga harus memiliki jalan alternatif atau cara khusus untuk menekan beban pengeluaran.


Ilustrasi acc

1. Menerapkan Metode Iklan

Iklan menjadi salah satu komponen penting dalam memperkenalkan usaha dan sekaligus menarik lebih banyak konsumen. Sebuah perusahaan ada kalanya tidak berpikir panjang bila berurusan dengan hal ini sehingga rela mengeluarkan lebih banyak biaya agar nama produk muncul di media elektronik atau media cetak koran. Jika ini dibiarkan secara terus-menerus, bukan tidak mungkin rincian biaya bisa membengkak, dan mungkin mempengaruhi kondisi kestabilan keuangan.

Anda sebenarnya bisa memanfaatkan berbagai media yang lebih murah untuk mempromosikan perusahaan tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, seperti memanfaatkan media sosial atau media berbasis online lainnya. Maka dengan begitu, perusahaan tetap bisa mendapatkan lebih banyak konsumen tanpa harus membuang cukup banyak uang.

2. Merencanakan Pajak

Menjadi seorang entrepreneur atau pelaku usaha tentunya berbeda dengan halnya karyawan biasa yang mendapatkan penghasilan yang telah dipotong pajak. Anda harus mulai mengurus berbagai jenis pajak terkait usaha, yang harus dibayarkan tepat pada waktunya agar tidak terkena denda. Anda dapat menekan pengeluaran dari segi pajak ini dengan memakai jasa seorang konsultan profesional. Anda dapat meminta bantuan konsultan untuk menghitung estimasi pajak yang harus dibayarkan serta menanyakan secara detail tentang beberapa trik untuk mengurangi biaya tersebut.

3. Kurangi Penggunaan Kertas

Salah satu cara efektif dalam menekan biaya pengeluaran adalah dengan mengurangi penggunaan kertas yang berlebihan. Cara alternatif lainnya dengan mengubah dokumen penting perusahaan ke dalam bentuk file. Selain tidak banyak memakan tempat juga lebih efisien dan mudah untuk mengaturnya, dengan tidak Anda sadari cara seperti ini turut mengurangi sampah, paling penting lebih sehat untuk lingkungan sekitar. Anda juga dapat memanfaatkan media penyimpanan berbasis online untuk menyimpan dokumen penting perusahaan.

4. Memperkerjakan Generasi Muda dan Pintar

Setiap perusahaan memang membutuhkan karyawan yang berpengalaman untuk menjaga kualitas dan kinerja perusahaan agar tetap maksimal juga berjalan sesuai harapan. Namun tidak ada salahnya apabila memperkerjakan pegawai yang belum mempunyai pengalaman, yang paling penting mempunyai potensi juga bersedia untuk terus belajar. Bukan hanya perusahaan Anda akan dipenuhi dengan semangat muda, namun Anda dapat lebih berhemat karena gaji karyawan kalangan menengah jauh lebih rendah dibanding kalangan profesional yang memiliki pengalaman.

5. Batasi Mempercantik Kantor

Pebisnis pemula yang baru saja merintis usaha biasanya terlalu fokus mendesain kantor sehingga rela mengeluarkan biaya lebih untuk sekadar membeli furnitur terbaru atau wallpaper. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya segera hentikan hal tersebut dan tetap fokus terhadap hal lain yang lebih penting. Sebenarnya Anda tidak memerlukan perlengkapan kantor dengan harga mahal, hanya untuk sekadar memenuhi gengsi semata karena sebenarnya kehangatan suasana dan kebersamaan dalam kantor juga turut berkontribusi memberikan kenyamanan bagi karyawan.

6. Mencoba Sistem Barter

Anda juga dapat mencoba menjalin kerjasama dengan teman, keluarga, atau rekanan profesional untuk lebih mempererat jalinan bisnis dengan menggunakan sistem barter. Contohnya, sebuah perusahaan di bidang teknologi informasi akan melakukan promosi lewat jejaring sosial sebagai ganti dari pemasangan iklan atau penyebaran brosur di berbagai tempat umum. .

7. Memaksimalkan Produk

Anda juga bisa melakukannya dengan cara memaksimalkan produk yang Anda jual, dengan mengetahui selera pasar, respon konsumen terhadap produk, serta estimasi biaya yang rela mereka keluarkan, dapat membantu Anda merancang produk maupun pelayanan dengan efisien. Rajin dalam melakukan survei terhadap pasar dapat membantu mengurangi biaya pengeluaran, karena Anda tidak perlu mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu yang pada akhirnya gagal juga.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber.
Read more

Alasan Penting Melakukan Pembukuan untuk Bisnis

Ada berbagai macam persyaratan agar bisa membangun bisnis yang kuat dan besar. Salah satu di antaranya adalah memiliki sistem pembukuan yang mencatat setiap transaksi keuangan. Sistem pembukuan idealnya menyajikan informasi pengeluaran dan pendapatan, disusun secara sistematis dan terperinci agar mampu memberikan gambaran valid tentang segala kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan uang, barang, dan komponen lain seperti utang dan piutang.

Dengan menyusun data keuangan yang sistematis, pelaku bisnis dapat melihat dan menganalisa perputaran modalnya serta mengambil langkah korektif jika terjadi penyimpangan dari rencana semula. Sayangnya, belum semua pelaku usaha memiliki kesadaran akan pentingnya pembukuan keuangan. Untuk itu, artikel ini akan membantu para pelaku usaha, small business dan UMKM untuk mengetahui pentingnya melakukan pembukuan atau akuntansi.

Sumber: Sweeney Conrad

Sumber: Sweeney Conrad

Dengan melakukan pembukuan maka akan semakin mudah untuk para pelaku usaha mengambil strategi jitu untuk mendongkrak bisnis mereka. Para pelaku UMKM atau small business, khususnya skala mikro memang masih enggan membuat laporan pembukuan. Padahal setiap perusahaan termasuk skala mikro dan kecil wajib memiliki sistem pembukuan dan laporan keuangan usaha sebagai alat manajemen kinerja.

Pembukuan pun dapat digunakan sebagai peta dalam membuat keputusan yang tepat untuk memaksimalkan profit, pengaturan arus kas, hingga mengambil perencanaan strategis. Syarat usaha mikro untuk menjadi besar adalah harus bisa membuat perencanaan strategis. Hal ini sulit dicapai oleh pelaku usaha yang tidak menerapkan pembukuan karena mereka cenderung tidak mampu memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan perusahaan.

Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak dapat melihat jelas apakah bisnisnya benar-benar menguntungkan. Perusahaan juga tidak bisa mengetahui perkembangan, keuntungan, dan prospek usahanya untuk memudahkan perusahaan dalam meminjam modal tambahan atau menggaet investor di saat yang diperlukan. Karena lembaga keuangan mensyaratkan perusahaan yang layak diberi pinjaman harus berjalan minimal berjalan dua tahun dan memiliki prospek yang baik.

Dengan memisahkan keuangan dan mencatat setiap transaksinya, pelaku usaha akan lebih mudah menerapkan pembukuan biaya berupa pelacakan, pencatatan, dan analisis terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan. Pembukuan biaya berperan membantu manajemen usaha dalam proses pengendalian dan perencanaan untuk memperbaiki efisiensi serta kualitas, baik untuk keputusan rutin maupun strategis atau jangka panjang.

Dengan sistem yang terkendali, perusahaan dapat mengatur biaya-biaya cadangan yang diperlukan untuk kondisi tertentu, misalnya renovasi tempat usaha ataupun membahagiakan karyawan dengan liburan bersama.

Kegunaan yang tak kalah penting dari pembukuan yakni untuk urusan pajak usaha/UMKM. Hal ini karena pembukuan menjadi suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan seperti harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, diakhiri dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi yang diperlukan untuk periode Tahun Pajak tersebut.



Ada kalimat bijak yang mengatakan, “Apa yang bisa Anda ukur, bisa Anda kontrol. Apa yang bisa Anda kontrol, bisa Anda tingkatkan”. Alat ukur bagi sebuah usaha menjadi sangat penting jika seseorang ingin mengontrol dan meningkatkan hasil dari usaha tersebut. Alat ukur yaitu akuntansi/pembukuan tidaklah sulit untuk dilakukan bila Anda giat mencatat setiap transaksi usaha atau bila Anda memiliki seseorang yang membantu melakukan semua pencatatan dengan terpercaya.

FMB Consultant hadir untuk membantu Anda  melakukan pembukuan yang terperinci dan terpercaya. Dengan tim yang telah berpengalaman lebih dari 8 tahun, kami akan menyediakan jasa pembukuan yang dapat meningkatkan prospek bisnis Anda. Untuk diskusi santai mengenai pembukuan, Anda dapat kunjungi atau hubungi Managing Partner kami di


Official LinkedIn Page |


Artikel ini dikelola dari berbagai sumber:
Business Lounge Journals dan Industri
Read more

Tech-accountancy, It’s Happening

SKILLS IN TECHNOLOGY will be of vital important for accountants in the future, with the inexorable rise of digitization.

Four out of five (83%) accountants believe that understanding technology is as important to their job as understanding accountancy, according to a survey of 2,000 accounting professionals and SMEs by Xero.

Habits have changed since the arrival of cloud accounting tools, leading many professionals to consider data analysis and management consultancy as key service offerings they should provide. A broadening of skill-sets seems a vital strategy: 59% of the SMEs surveyed said they didn’t think they would need an accountant at all, in ten years’ time.

xero report 2

Gary Turner, managing director at Xero, said: “Moving to digital is inevitable, no industry is impervious to change, and the message has stayed the same. ‘Accountants and technology’ is not a new subject, and technology is now the front and centre of accountancy.”

Half (48%) of accounting professionals are taking internal courses and 26% are taking external courses to adapt to new tech, with some swotting up on business intelligence. A third of small business owners cited ‘technology competency’ as the most important skill in a business adviser. Some 71% of accountants consider automation to be crucial to their success over the next five years.

“As we head into a prolonged period of technological change in the next five years it’s encouraging that many accountants see being tech savvy as a key survival skill,” added Turner.

A further 60% of professionals are confident that they can adapt to change, but 22% feel it will be so great that they might need to leave the sector.

Paul Bulpitt, head of accounting at Xero, said: “It’s an expectation for people to do everything online, that has been the major shift in the past four to five years.”

Additionally, almost half, 43%, believe risk analysis will be required for success beyond 2025, and 27% for management consultancy. However, the report highlighted that most accountants are failing to invest time in education for them and their staff to adapt to new technologies.

Turner continued: “The survey suggested that the profession needs to work harder on investing in emerging technologies, and in more effectively persuading SMBs that a close working relationship with a financial professional which will be important in years to come.”

The skills small business owners consider to be most important in a business adviser are trust (55%), attention to detail (47%) and technical competence (31%).


This article cited from Tech as important as accountancy … for accountants.

Read more