Sepanjang tahun 2020, BEI mencatat kenaikan jumlah investor saham mengalami kenaikan hingga 36,13 persen dibandingkan akhir tahun 2019. Hal ini tentu merupakan aktivitas ekonomi yang tidak akan dilewatkan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai strategi optimalisasi penerimaan pajak, yaitu pengumpulan basis data atas harta yang dimiliki oleh Wajib Pajak. Oleh karena itu sebagai investor saham di bursa, selain memahami kiat berinvestasi yang tepat, sebaiknya perlu juga untuk memahami aspek-aspek perpajakan terkait dengan kepemilikan saham di bursa.

Secara umum terdapat 2 jenis pajak penghasilan yang dapat dikenakan kepada investor saham di bursa efek, yaitu pajak penghasilan atas transaksi penjualan saham dan dividen.

Transaksi penjualan saham

Transaksi penjualan saham di bursa efek dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final dengan tarif 0,1% dari bruto nilai transaksi penjualan. Sebagai contoh terdapat transaksi sebagai berikut:

Dari ketiga transaksi tersebut, yang menjadi objek pajak penghasilan adalah transaksi penjualan saham yang terjadi pada tanggal 3 Januari 2020 senilai Rp 21.000.000,00. Sehingga pajak penghasilan yang harus dipungut oleh penyelenggara bursa efek adalah senilai Rp 21.000,00 (Rp 21.000.000,00 x 0,1%).

Sebagai catatan, pada tanggal 2 Januari 2020, pajak penghasilan tidak dikenakan, karena walaupun nilai saham yang dibeli mengalami kenaikan, namun transaksi penjualan belum terjadi. Oleh karena itu, pajak penghasilan tidak terutang.

Lalu, mengingat pajak penghasilan dikenakan atas transaksi penjualan saham, artinya walaupun penjualan dilakukan dalam keadaan merugi, maka pajak penghasilan tetap akan dikenakan.

Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan emiten kepada para pemegang saham yang ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pada umumnya, apabila RUPS menyatakan akan membagikan dividen dan investor saham masih memiliki kepemilikan saham atas emiten tersebut hingga periode pembagian dividen tersebut, maka investor berhak untuk memperoleh dividen.

Dividen dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final dengan tarif 10%. Sebagai contoh, apabila kita memperoleh dividen senilai Rp 1.000.000,00, maka pajak penghasilan yang harus dipotong oleh emiten adalah senilai Rp 100.000,00 (Rp 1.000.000,00 x 10%).

Mekanisme pemungutan dan pemotongan ini memudahkan para investor saham agar tidak perlu melakukan pembayaran atas pajak penghasilan yang terutang tersebut. Sehingga para investor saham sebagai Wajib Pajak hanya perlu melaporkan total dari nilai transaksi penjualan yang terjadi dan dividen yang dibagikan selama tahun pajak bersangkutan ke dalam SPT Tahunan pada bagian lampiran penghasilan yang dikenakan pajak final dan/atau bersifat final beserta nilai pajak yang telah dibayar melalui bursa efek dan dipotong oleh emiten yang bersangkutan.

Artikel pajak ini ditulis oleh:

Albertus, B.M.
Konsultan Pajak FMB Partner

FMB Partner menyediakan jasa penghitungan, pelaporan pajak lengkap dengan penghitungan risiko perpajakannya. Sebelum terhambat, sebelum terlambat, sila tanya dan hubungi kami di  +6221 397 288 88atau admin@fmbpartner.com

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page