Skip to main content Skip to search

Archives for Finance

Analisis: Bank 4.0 tembusan inovasi teknologi

Kemajuan teknologi, meningkatnya pelanggan milenial disertai dengan lonjakan perusahaan fintech mengharuskan bank mengubah bisnis mereka. Teknologi telah mengubah dunia dengan Internet of Things (IoT), gamifikasi, kecerdasan buatan dan asisten digital, omnichannel, blockchain, data besar serta otomatisasi proses robot (RPA). Otomasi akan menggantikan tenaga manusia dalam tugas rutin dan berulang di sektor perbankan, seperti pembuatan akun baru, pembukuan, akuntansi dan audit, tugas teller dan penerbitan pinjaman.

Bonus demografis di Indonesia akan menjadikan generasi millennial sebagai kelompok pelanggan utama bagi bank dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena mereka adalah masyarakat yang melek digital dan fasih dengan teknologi, layanan bank tentu harus disesuaikan dengan penggunaan digital mereka. Mereka mungkin tidak terbiasa dengan layanan tabungan konvensional karena sebagian besar transaksi harian mereka dilakukan melalui smartphone dan layanan fintech. Mereka menginginkan layanan yang dipersonalisasi, cepat dan mudah.

Perubahan-perubahan itu memaksa bank bertransformasi untuk mengamankan relevansinya sendiri. Mereka yang menolak untuk menerima perubahan dan menolak untuk beradaptasi akan kalah dalam persaingan dan “dipaksa” menutup bisnis mereka. Lantas, bank seperti apa yang dapat bertahan di lingkungan dan kompetisi baru? Jawabannya adalah bisnis Bank 4.0 dengan empat karakteristik berikut, mereka siap untuk bertahan atau bahkan berkembang.

Figure 1 Karakter Bank 4.0 FMB Partner

Karakteristik pertama adalah bahwa bank akan berubah dari perusahaan berbasis produk ke perusahaan berbasis layanan. Saat ini, bank menawarkan produk siap pakai kepada pelanggan mereka. Namun, pendekatan ini tidak lagi sesuai dengan karakteristik pelanggan di masa depan. Bank perlu menawarkan solusi, bukan produk. Demi menawarkan solusi untuk masalah pelanggan, bank harus memahami pelanggan mereka sepenuhnya.

Ini mengarah ke karakteristik kedua Bank 4.0: menjadi sentris pelanggan. Layanan elektronik yang dipersonalisasi akan menjadi aturan utama, hal ini termasuk pengalaman pengguna yang dipersonalisasi, penawaran yang dipersonalisasi, saran yang dipersonalisasi, dan pemasaran yang dipersonalisasi. Karena generasi milenial akan menjadi pelanggan utama bank, maka sudah seharusnya bank memahami kebutuhan dan preferensi generasi ini.

Berdasarkan Survei Millenial yang dilakukan oleh Mandiri Institute pada 2018, produk perbankan yang paling banyak digunakan oleh milenial adalah rekening tabungan (91 persen) dan transaksi (78 persen) dan produk non-bank yang paling banyak digunakan adalah transaksi (31 persen) dan asuransi (32) persen). Hampir 60 persen generasi milenial menggunakan pembayaran nontunai lebih dari sepuluh kali sebulan, dan 53 persen menggunakan aplikasi mobile banking lebih dari sepuluh kali sebulan. Lima puluh lima persen jarang pergi ke teller atau menggunakan internet banking, sedangkan 36 persen tidak pernah menggunakan internet banking dalam sebulan. Ini mencerminkan kebutuhan milenial untuk layanan yang cepat dan mudah.

Bahkan pengalaman pengguna yang berbeda dari layanan mobile banking dan internet banking menghasilkan frekuensi berbeda yang signifikan dalam menggunakan layanan tersebut. Tuntutan Millenial untuk layanan dan produk perbankan didominasi oleh aplikasi, layanan online, mobile banking, pembayaran dan transaksi (Gambar 2). Sebagai masyarakat yang cepat dan fasih digital, mereka membutuhkan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses layanan.

Karakteristik ketiga Bank 4.0 adalah semua bank akan digital. Bank akan berubah menjadi perusahaan teknologi dengan lisensi perbankan. Perbankan tidak lagi tentang tempat pelanggan pergi, tetapi tentang sesuatu yang dilakukan pelanggan. Menurut Backbase Whitepaper dari Juni 2018, bank digital pertama berdiri di atas empat pilar: saluran omnibanking, perbankan modular, perbankan terbuka, dan perbankan pintar (omnibanking channel, modular banking, open banking and smart banking). Omni perbankan adalah interaksi yang mulus dan konsisten antara pelanggan dan lembaga keuangan mereka di berbagai saluran. Sebagian besar pelanggan bergerak di antara banyak perangkat untuk mencapai goal mereka, dan pelanggan yang menggunakan lebih banyak saluran mereka akan lebih dapat menerima/memiliki banyak produk bank. Oleh karena itu, penting untuk memiliki interaksi yang lancar dan konsisten di berbagai saluran.

Mengingat kemajuan teknologi yang cepat dan kebutuhan untuk menanggapi permintaan pelanggan yang dinamis, bank membutuhkan sistem yang gesit. Perbankan modular cocok bagi bank yang ingin menjadi gesit. Gaya Lego adalah salah satu pendekatan untuk menjadi gesit. Alih-alih memiliki satu aplikasi monolitik atau lapisan terpisah, operasi Lego-style memungkinkan bank dengan mudah menginstal dan menghapus aplikasi berdasarkan kebutuhan mereka. Sisi produksi lincah ini harus disertai dengan distribusi lincah dengan karakteristik pelanggan pertama, fast twitch, test–learn-tweak, right channeling dan revenue readiness. 

Figure 2 Millenial concerns with regard to banking services

Open banking adalah pendekatan terbaru yang diadopsi oleh sektor perbankan. Uni Eropa telah mendorong maju dengan mewajibkan bank-bank Uni Eropa menerapkan Petunjuk Layanan Pembayaran (PSD2) yang direvisi, di mana monopoli bank terkait dengan informasi akun pelanggan mereka dan layanan pembayaran akan segera menghilang. Bank dipaksa untuk memberikan akses penyedia pihak ketiga ke akun pelanggan mereka melalui antarmuka program aplikasi terbuka (API). Ini mengubah perbankan menjadi platform untuk semua transaksi keuangan pelanggan–Perbankan sebagai Platform (BaaP).

Saat ini, sebagian besar bank mempertahankan sistem tertutup dengan kepemilikan aset, pekerjaan lokal, produksi massal, proprietary value dan scarcity control. Sementara itu, sistem perbankan terbuka memiliki fitur akses yang terhubung, jaringan terdistribusi, produksi unit, shared value dan abundance management. Perubahan dari perbankan tertutup menjadi perbankan terbuka akan meningkatkan daya saing bank, terutama dengan munculnya perusahaan fintech.

Perbankan digital adalah bentuk perbankan pintar yang memanfaatkan big data. Yaitu bank yang sebenarnya duduk di atas “minyak” baru, yang merupakan big data tentang informasi demografis dan keuangan, gaya hidup dan kegiatan sosial pelanggan mereka. Menggunakan kekayaan data ini, bank dapat menyediakan produk dan layanan yang dipersonalisasi melalui saluran yang dipilih atau diinginkan. Pengalaman ini akan meningkatkan kepuasan pelanggan dan meningkatkan loyalitas mereka kepada bank.

Bank digital juga merupakan bank kognitif yang menggunakan kecerdasan buatan. Sebuah studi oleh Baker McKenzie menemukan bahwa 49 persen bank akan menggunakan AI untuk manajemen risiko, 45 persen untuk analisis dan penelitian keuangan, 37 persen untuk investasi dan manajemen portofolio, dan hanya 17 persen bank belum memperkenalkan AI ke bisnis mereka. Penggunaan teknologi ini dapat menciptakan aliran pendapatan baru, mengoptimalkan proses dan biaya bisnis, dan meningkatkan pengalaman pelanggan.

Karakteristik keempat Bank 4.0 adalah kolaborasi dengan perusahaan fintech, yang akhir-akhir ini berkembang pesat. Di Indonesia, 45 perusahaan pembayaran fintech telah terdaftar di Bank Indonesia, 1 lisensi pinjaman fintech (P2PL) telah dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan 77 perusahaan fintech P2PL lainnya telah terdaftar di OJK.

Menurut Survei Milenial oleh Lembaga Mandiri, sekitar 82 persen generasi milenial menggunakan layanan dan produk perbankan dan fintech. Ada banyak pilihan bagi bank untuk berkolaborasi dengan perusahaan fintech. Bank dan P2PL fintech dapat berkolaborasi dalam pemberian pinjaman. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan skema kemitraan label putih (white label partnership scheme). Dalam skema ini, bank bekerja sama dengan P2PL melalui produk co-branded. Dengan basis big data, bank dapat menawarkan pelanggan mereka yang tidak memenuhi syarat untuk pinjaman bank kepada pemberi pinjaman P2PL dan menerima biaya referensi sebagai imbalan. Selain itu, karena peraturan tersebut juga memungkinkan lembaga menjadi pemberi pinjaman, bank dapat menyalurkan pinjaman melalui P2PL. Dengan demikian P2PL berfungsi sebagai saluran distribusi. Untuk bank, ini akan mengurangi biaya akuisisi ketika mencari pelanggan.

Kemungkinan lain adalah bagi bank untuk menjual produk investasi ritel melalui perusahaan fintech. Saat ini, sekitar 70 persen pemberi pinjaman dalam skema P2PL berusia muda, antara 18 dan 35 tahun. Ini merupakan peluang bagi bank untuk menawarkan produk investasi dengan dana lebih kecil yang diperlukan yang akan lebih sesuai dengan kebutuhan generasi milenial. Ini akan menurunkan biaya saluran distribusi untuk bank, karena produk mereka dapat menjangkau lebih banyak pelanggan dengan cara yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat. Adapun layanan P2PL, ini akan meningkatkan pendapatan berbasis biaya.

Untuk itu Bank perlu berubah, jika tidak mereka akan kalah bersaing dan akhirnya menghilang. Lantas, apakah bank-bank di Indonesia bersedia berubah?

Sumber: Jakpost.

_

Ikuti kami di akun resmi media sosial FMB Group:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Pajak Penghasilan Hadiah Turnamen E-sport

Tidak dapat dipungkiri bahwa online game pada saat ini menjadi fenomena di masyarakat. Kini, game tidak hanya diminati oleh anak-anak dan remaja saja, melainkan hingga usia dewasa-menengah. Hal ini juga mengubah sentimen game yang pada awalnya hanya sebagai hobi dan hiburan. Karena pada saat ini, game telah menjadi sebuah bidang pekerjaan atau profesi dalam naungan industri electronic sport atau singkatnya, e-sport.

Perkembangan e-sport di Indonesia semakin membaik dengan diadakannya kejuaraan pertama ESL Indonesia oleh perusahaan terbesar e-sport gaming pada 15 September lalu dan akan mendatangkan musim kejuaraan kelas internasional lainnya pada masa mendatang. Tidak sedikit juga perusahaan dalam negeri dari bidang industri lain yang mengadakan turnamen saat ini guna mendukung suksesnya e-sport di Indonesia, baik itu dari segi engagement dengan pemain profesional maupun perusahaan e-sport itu sendiri.

Maraknya turnamen e-sport pada saat ini juga merupakan besarnya antusias yang diberikan oleh komunitas e-sport tersendiri. Para gamers membentuk suatu komunitas untuk mendukung game yang dia mainkan dan bahkan pemain profesional yang disukai.

Turnamen e-sport ini pun tidak luput dari sorotan hadiah ratusan juta yang selalu menjadi daya tarik industri ini. Namun masih banyak pemenang turnamen e-sport ini baik umum hingg pemain profesional yang tidak mengetahui bahwa hadiah turnamen ini bukanlah sekadar menang game.

Karena ketika sebuah tim e-sport memenangkan hadiah turnamen maka pihak penyelenggara turnamen memiliki kewajiban untuk memotong hadiah tersebut dengan Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan UU Pajak Penghasilan dengan memperhatikan kriteria subjek dan objek Pajak Penghasilan. Berikut adalah tulisan kami mengenai “Pajak Penghasilan Hadiah Turnamen E-sport”.

Pajak-Hadiah-Turnamen-Esport-FMB-Partner

Pada umumnya, subjek pajak dalam pemberian hadiah turnamen e-sport dapat diidentifikasi melalui surat pernyataan penerima hadiah. Pihak yang ditunjuk sebagai perwakilan dan bertanggung jawab untuk penerimaan hadiah dari anggota tim merupakan subjek pajak pemotongan Pajak Penghasilan hadiah turnamen tersebut.

Subjek pajak menurut UU PPh Pasal 2 ayat (1) terdiri dari:

  1. Orang pribadi, contoh : team leader, team manager, coach, atau team member.
  2. Badan, contoh : Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, atau bentuk badan lainnya.
  3. Bentuk usaha tetap, contoh : Kantor Perwakilan Asing (jarang terjadi).

Lalu, objek Pajak Penghasilan hadiah turnamen menurut PER-11/PJ/2015 Pasal 3 dipotong sesuai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Orang pribadi dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dari nilai hadiah.
  2. Badan dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dari nilai hadiah.
  3. Bentuk usaha tetap dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dari nilai hadiah.

Berikut ini merupakan tabel ringkasan ketentuan pemotongan Pajak Penghasilan hadiah turnamen e-sport:

Contoh kasus:

Jika sebuah tim memenangkan hadiah turnamen senilai Rp.350.000.000,00, dan pada surat pernyataan penerimaan hadiah tertulis pihak yang ditunjuk sebagai perwakilan dan bertanggung jawab sebagai penerima hadiah adalah:

  1. Team manager, team leader, coach, atau team member

Maka ketentuan penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan hadiah turnamen tersebut adalah sebagai berikut:

Rp.50.000.000,00    x 5% = Rp.2.500.000,00

Rp.200.000.000,00   x 15% = Rp.30.000.000,00

Rp.100.000.000,00   x 25% = Rp.25.000.000,00 +

Total pemotongan PPh      = Rp.57.500.000,00

Sehingga hadiah yang diterima setelah pemotongan PPh adalah senilai Rp.292.500.000,00. Jika tidak memiliki NPWP maka pemotongan lebih tinggi 20%, sehingga pemotongan PPh menjadi Rp.69.000.000,00 dan hadiah yang diterima setelah pemotongan PPh adalah senilai Rp.281.000.000,00.

Atas pemotongan ini, penyelenggara wajib memberikan bukti potong PPh Pasal 21 kepada wakil yang ditunjuk sebagai penerima hadiah yang wajib dilapor oleh wakil penerima hadiah melalui SPT Tahunan wakil tersebut.

  1. Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, atau bentuk badan lainnya dan Kantor Perwakilan Asing (bentuk usaha tetap)

Maka ketentuan penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan hadiah turnamen tersebut adalah sebagai berikut:

Rp.350.000.000,00   x 15% = Rp.52.500.000,00

Sehingga hadiah yang diterima setelah pemotongan PPh adalah senilai Rp.297.500.000,00. Jika tidak memiliki NPWP maka pemotongan lebih tinggi 100%, sehingga pemotongan PPh menjadi Rp.105.000.000,00 dan hadiah yang diterima setelah pemotongan PPh adalah senilai Rp.245.000.000,00.

Atas pemotongan ini, penyelenggara wajib memberikan bukti potong PPh Pasal 23 kepada wakil yang ditunjuk sebagai penerima hadiah yang wajub dilapor oleh wakil penerima hadiah melalui SPT Tahunan wakil tersebut.

Artikel pajak ini ditulis oleh:

Albertus, B.M.
Konsultan Pajak FMB Partner

FMB Partner menyediakan jasa penghitungan, pelaporan pajak lengkap dengan penghitungan risiko perpajakannya. Sebelum terhambat, sebelum terlambat, sila tanya dan hubungi kami di 021-5082-0033 atau admin@fmbpartner.com

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Who should be on your business money management team?

Don’t think that you have to be a millionaire entrepreneur before you build a business money management team because truthfully, it really helps to start as you mean to go on and upgrade as you go.

Being a good money steward from the start will help you grow your income more rapidly and make you feel really good about your money. So, no matter where you are right now, let’s talk about who should be on your business money team.

Team Member #1: Bookkeeper
The very first hire that we recommend (for your money management team) is a bookkeeper and this is even if you’re in very, very early stages of your business.

Let us tell you why.

For most of us, especially creative entrepreneurs, that kind of thing isn’t really in our zone of genius and it can really stress us out. Let’s say if you started in your business, maybe six months in and you are just looking at receipts all the time, and eventually, it will stressing you out about taxes, you will think about it a lot and it will be just mental clutter that you do not need.

That’s when you remember someone saying, you know, “Hire a bookkeeper.”

We really suggest that bookkeeper is the first person you add to your money team because it will really make you feel quite pro, but also it will save you money come tax time when everything is all organized.

The other thing that’s great about having a bookkeeper is if you get monthly or quarterly reports, it really does help you keep an eye on your income and what you pay attention to will grow.

Team Member #2: Accountant
The number two hire for your money team is an accountant. Now, you can start again just having someone who does your taxes once a year.

And remember, you could do it yourself but is it your zone of genius and is it how it makes you money? Usually, it’s not.

And this is again, just feels like a pro kind of thing in your business to make sure you’re doing things well. It also means that sometimes you get later tax filing deadlines if you’re going through an accountant.

So, you can upgrade, maybe you’ve already got an accountant, then we would suggest to take it to the next level.

Meet your accountant once a quarter. And again it’s just that really good way of paying attention to what’s happening with your money and every quarter you tackle a new project. It’s just having someone there in your corner who can help you.

Team Member #3: Financial Adviser
The next stage on from and accountant could be adding a financial adviser to your money team. So maybe you’re doing really well in your business and it’s time to start looking investment strategies.

If so, a financial adviser could be the next person that you need to add to your business money team.

Team Member #4: Money Mentor
Now the fourth group or person to add to your team is a money mentor, somebody who has done what you want to do and someone who has the results that you want to achieve. And I say it very strongly in that thing right, don’t get a mentor or don’t take business advice from people who haven’t achieved what you want to achieve.

So it’s all well and good too, you know, have your Uncle Bob tell you, you should do this or, you know, whatever. But sometimes you really need to get that advice from somebody who has been where you’ve been.

You can specifically seek out a mentor who had a very similar business model to you, had very similar pricing and very similar products. So you could ask them questions about different stages in their business, different money plateaus they had experienced and it will be incredibly rewarding because they really understood exactly where you are coming from and don’t try and push you into a different direction.

So that’s that fourth person, who is a money mentor who has had the financial results you want.

Team Member #5: Mastermind Group
The fifth group, and this is a group, to add to your money team is great mastermind buddies who again have a great money mindset and are a good mix of people who are at your level and above.

This is incredibly important and has been an incredible addition to the money team. You will really do see them, they don’t know it, they’re not employed by you but they are part of your business money team because every day you can have really honest conversations about money.

Yes, some of them have similar incomes to you and some of them earn four or five times more than you. And, that’s inspiring.

So sometimes you can grow out of mastermind groups. We can grow out of peer groups and you really need to look for that next level because it will stretch you, it will stretch your income and it will stretch what you see as possible.

So there are five groups. If we’ve missed any out, write them down in the comments because we would love to hear, you know, what actions you’ve been taking or what actions you’re inspired to take after reading to this about how to build a great business money management team.

Our bookkeepers are real humans with perfect books. You’re a small business owner with many things to do. FMB Partner has professional bookkeepers that experienced serving entrepreneurs. At this wonderful time of the year, let us take bookkeeping off your hands forever, so you can focus on what matters most. Ask us around at admin@fmbpartner.com or call us (+62)8996 777 879!

_

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

FMB Partner IG Page

FMB&Partner Law Firm IG Page

Read more

Risiko Perpajakan atas Penutupan Perseroan Terbatas

Sebuah Perseroan Terbatas (“PT”) secara resmi didirikan berdasarkan akta pendirian yang diterbikan oleh notaris dan disahkan oleh Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Keberadaan PT ini akan terus berlangsung ada, selama tidak ada keputusan untuk melakukan upaya penutupan, baik keputusan dari pihak internal yang bersifat secara suka rela ataupun pihak eksternal yang bersifat secara memaksa karena ketentuan hukum yang berlaku.

Apapun penyebab atas keputusan penutupan tersebut diambil, keputusan penutupan harus dilaksanakan dengan cara yang tepat. Namun pada praktiknya, terutama yang sering terjadi pada usaha kecil mikro-menengah (“UMKM”), setelah PT ditutup, para penanggung jawab PT dituntut untuk membayar sejumlah tagihan pajak yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Meskipun keberadaan PT tersebut secara resmi telah berakhir.

Hal ini disebabkan oleh kekeliruan atas prosedur penutupan PT yang diambil. Pada hukumnya, prosedur penutupan PT dibagi menjadi dua langkah utama, yaitu: penutupan PT secara formal, dan penghapusan NPWP.

Pada langkah pertama yaitu penutupan PT secara formal, salah satu kewajiban PT adalah melakukan proses likuidasi, yaitu: menyelesaikan seluruh kewajiban yang dimiliki, menjual harta perusahaan, dan mengembalikan sisa hasil usaha kepada para pemegang saham.

Proses likuidasi ini kerap sekali dilakukan oleh UMKM tanpa memperhatikan ketentuan standar akuntansi dan perpajakan yang berlaku, sehingga pada proses ini para penanggung jawab PT merasa telah menyelesaikan kewajibannya begitu saja. Padahal, setiap transaksi yang terjadi pada proses likuidasi dapat memunculkan risiko perpajakan baru.

Berikut beberapa contoh transaksi:

  1. Transaksi penjualan harta

Ketika PT menjual sebuah mesin dengan nilai lebih tinggi dibandingkan nilai buku yang dicatat, maka selisih nilai tersebut merupakan keuntungan modal yang merupakan objek pajak penghasilan.

Nilai Buku            = Rp.100.000.000,00

Nilai Dijual           = Rp.150.000.000,00

Keuntungan       = Rp.50.000.000.00 (objek pajak penghasilan)

  1. Pembebasan Utang

Setelah PT menjual seluruh harta yang dimiliki namun tetap belum mampu untuk menyelesaikan sisa kewajiban yang dimiliki, sehingga kewajiban tersebut menjadi gagal bayar. Maka sesuai dengan ketentuan UU PPh Pasal 4 ayat (1) huruf k “keuntungan karena pembebasan utang” merupakan objek pajak penghasilan. Berikut contoh perhitungannya:

Utang awal         = Rp.1.000.000.000,00

Pelunasan           = Rp.200.000.000,00

Gagal Bayar        = Rp.800.000.000,00 (objek pajak penghasilan)

Risiko perpajakan ini akan diketahui ketika PT melakukan langkah kedua dalam penutupan PT yaitu mengajukan proses penghapusan NPWP. Adapun salah satu prosedur wajib yang dilaksanakan sebelum Ditjen Pajak memberikan Surat Keputusan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak adalah pemeriksaan. Apabila Ditjen Pajak memutuskan untuk melakukan pemeriksaan yang bersifat all tax dengan rentang periode yang cukup panjang, maka risiko perpajakan yang akan terungkap tidak hanya risiko perpajakan atas transaksi likuidasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Melainkan juga risiko perpajakan tahun-tahun sebelumnya yang menimbulkan utang pajak yang wajib dibayar oleh PT.

Karena keberadaan PT secara formal telah dibubarkan, maka utang pajak yang wajib dibayar oleh PT wajib ditanggung renteng secara pribadi oleh pengurus PT (UU KUP Pasal 32 ayat (2)). Oleh karena itu, untuk meminimalisir segala kemungkinan risiko yang dapat terjadi maka diperlukan risk assestment dan manajemen yang tepat sebelum melakukan langkah upaya penutupan PT.

_

Artikel pajak ini ditulis oleh:

Albertus, B.M.
Konsultan Pajak FMB Partner

FMB Partner menyediakan jasa penutupan PT lengkap dengan penghitungan risiko perpajakannya. Sebelum terhambat, sebelum terlambat, sila tanya dan hubungi kami di 021-5082-0033 atau admin@fmbpartner.com

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

So here’s what we know about BlockChain

Understanding how blockchain creates business value is essential for companies to identify the right use cases and move beyond small pilots to widespread adoption.

Blockchain has a lot of potential applications, in areas as diverse as supply-chain management, trade finance, insurance, and even cybersecurity. But there are a lot of misconceptions and often good reasons why a blockchain may not be the right tool for the job.

What is blockchain?

When you think about blockchain, is really to think of it as a database. And it’s a database which is shared across a number of participants. We think about a network of participants. Each has a computer. The idea is that at any moment in time, simultaneously, each member of that network holds an identical copy of the blockchain database on their computer. That’s the essential principle. Information is potentially available to all participants at a moment in time.

When you think about that definition as a database, think of it in three parts. The first is that this is a cryptographically secure database or distributed ledger. That means that when data is read or written from the database, you need the correct cryptographic keys to do that: a public key, which is a basically the address and the database where information is stored, and a private key, which is your personal key, truly the security which prevents other people from updating the information unless they have that correct key. It’s secure data.

Second, it’s a digital log or digital database of transactions. Digital’s important because, in many industries, we’re still going through the process of digitization, and that’s an important first step before you can even think about using blockchain.

Finally, this is a database that’s shared across either a public or a private network. The most famous public network is probably the Bitcoin blockchain. That is something which has been around for many years. And you can join that network. You can become a node on the network with a computer, without any expressed permissions. And you can leave again. So no one really knows who’s joining and leaving.

Conversely, you can have a private blockchain, a private network, which in an application like banking is probably much more culturally acceptable, in which you know who’s participating, who’s got access to data, who’s holding a copy of that database.

But we already have big databases. And we already have the cloud, where you can share big databases and manage permissions. So just double click for us, why is blockchain potentially a better mousetrap?

There are four areas of innovation in why blockchain should be used.

One certainly revolves around the cryptographic keys. The cryptographic security we’re using today that was originated in the Bitcoin blockchain truly comes from 20-plus years of cryptographic research. This wasn’t just invented overnight. The way of securing data in a distributed database through these keys is pretty unique and certainly uses cutting-edge securities. That’s number one.

Second, the idea that this is a distributed, a decentralized, database means that you don’t have some of these issues around a database breaking the single point of failure. What you’ve actually got is a system which is very robust. If one database fails, one copy fails, you’ve got that important redundancy across multiple nodes.

Third, the essence of blockchain is a chain of blocks of information together. When you have those blocks chained together, you’re creating a perfect audit history. You can go back through time and see a former state of the database. If you’re recording things like property titles, you can see a previous owner of the property and the current owner. You’ve got this perfect audit trail.

But perhaps the most important aspect here, and this is what’s getting people excited, is this idea of process integrity. And that is the database can only be updated when two things happen. One, the correct credentials are being applied, the private and public key together. But most importantly, those credentials are being verified by a majority of participants in the network.

You can only update the database when the majority of independent computers check and verify those credentials that allow you to write to the database. You’re securing this against the idea of a single point of failure and somebody working nefariously to try and corrupt the database. You have this democratization of the process of dating the database.

Then, is blockchain Bitcoin? No, as we were just saying, Bitcoin is an implementation of and leverages a blockchain in order to deliver a virtual currency. We often hear, “Is it better than traditional databases?” No, it’s not necessarily better than traditional databases. But blockchain is very effective in an environment where you need to have a decentralized way of working or you’re looking to take out a centralized entity—so in things like in trade finances.

That said, blockchain isn’t as efficient as traditional databases. It’s much hungrier in terms of energy use and in many cases has higher storage costs. By definition, it’s much more for specific use cases. Is it immutable or tamper-proof? It is only as immutable and tamper-proof as the implementation itself. And, frankly, if you’re able to take over half the nodes in a blockchain network, it’s very difficult. But if you are, you can tamper with it because then you will be able to affect the consensus algorithm.

As far as it being a truth machine, well, the blockchain’s only as good as the information you put in it. So if you have a blockchain, and in the blockchain, you’re keeping people’s driver’s license information or voting history, and you put in incorrect data, the data itself isn’t checked in any particular way. All that the blockchain itself does is ensure the integrity of the individuals making the transaction, ensuring that you have the right combination of a public and private key.

This article is from McKinsey&Company Podcast.

Follow us on FMB Partner social media pages:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

How should your business approach the Ramadan?

Cultural nuance and understanding can provide an opportunity to stand apart in the mobile app industry.

Establishing a mobile presence has become an integral factor for business success in today’s dynamic market. Globally, apps account for over 80 percent of mobile time and with app downloads predicted to grow to well over 250 billion downloads by 2022, it is clear to see where the opportunity lies for marketers to grow and consolidate their user base, particularly in Southeast Asia where 350 million internet users spend more time on mobile than any other market.

To succeed, businesses and independent app developers should go beyond just launching an app and increasing downloads. They need to own its entire life cycle — including user engagement and retention.

One important aspect of engagement is to seize the opportunities that come once in a year. The festive month of Ramadan, in this sense, is perhaps the ticket to making your app stand out in a crowded marketplace.

Nearly 250 million people will be celebrating Ramadan across Indonesia, Malaysia, and Singapore. The potential impact of Ramadan on businesses is, therefore, undeniable.

As we know, consumers and businesses alike are influenced by their surroundings and habits. It’s no surprise that just like Thanksgiving and Black Friday in the United States, or Boxing Day in England, Ramadan makes a serious impact on Southeast Asian businesses.

Over the past decade, this sacred time of fasting and prayer has called for a shift in the digital realm. Users are increasingly turning to their phones for shopping, information or diversion, profoundly impacting how app marketers are approaching their mobile strategies and campaigns around this festive season.

Ramadan this year, will start on the evening of Sunday, 6 May and end on the evening of Tuesday, 5 June. This leaves businesses with a very short window to further plan their marketing activities for this period.

Here are the top three key pointers to ensure that mobile-first businesses reach the right audience with the right messaging this Ramadan season.

  1. Benefiting from the 13th Month Salary Allowance

Businesses should consider allocating more of their Ramadan campaign budget spend to Indonesia, as the largest economy in Southeast Asia has been a top performer over the past few years. Besides the country’s strong economic growth in 2018, smartphone penetration has been steadily on the rise, growing from 24 percent in 2017 to 26 percent in 2018.

The most significant opportunity for businesses comes from a steady increase in the purchasing power of their users in Indonesia during this period.

“Tunjangan Hari Raya” (THR) translated to “Religious Holiday Allowance” is commonly known as the 13th salary, and is usually given two weeks before Eid. This additional “month’s salary” provides app users with the additional boost in buying power, which can in many cases translate into more in-app purchases.

While current data shows that Ramadan observers tend to spend this disposable income on new clothes, gadgets grooming and gifting, perhaps there’s more than can be done outside the typical habits.

With so many transactions taking place over this festive period, marketers who get their messaging right will be able to capitalise on this massive opportunity and direct shoppers and browsers alike to their app.

  1. The Right Message at the Right Time of the Day

To campaign more effectively during Ramadan, businesses should take the opportunity to secure a better understanding of the holiday itself. Appreciating the nuances and traditions of different observances can make all the difference.

Whether it’s rising for pre-dawn Sahur, fasting through the lunch hours or winding down after Buka Puasa (breaking the fast), marketers can learn the times of day in which they should avoid pushing alerts for offers and discounts to their audiences, and which other times would boost app opens and revenues.

A recent report from AppsFlyer indicates that for most app categories, the hours between 3 am to 6 am before Sahur are when festival observers tend to be most active online and make the most app purchases. Other peak periods include lunch hours and evenings, after Buka Puasa.

On the other hand, after observers leave work from 4 pm to 8 pm, apps register fewer opens and purchases, compared to other periods in the year. During these hours, in fact, many consumers are commuting in traffic or preparing for Buka Puasa.

  1. Localisation is More Than Just Translation

Localisation does not only refer to the local user interface but also covers marketing content. Advertisements and articles created in one geography can be interpreted differently in another.

Indonesia and Malaysia have many regional dialects and languages, but more importantly, each country has a unique culture that should be respected and reflected in any marketing strategy. Businesses should then ensure that they take into account the cultural differences at the social, organisational, and individual levels.

For instance, Mudik is the tradition of returning home to celebrate with family and is observed across Indonesia, Malaysia, and Singapore. It is also commonly known as ‘Pulang Kampung’ in Indonesia and ‘Balik Kampung’ in Malaysia and Singapore.

This period sees a substantial rise in travel spending on flight and train tickets, car rentals, and accommodation. Mudik presents an opportunity for marketers to personalise their messages based on their customer profile, which includes information about the user’s hometown and place of work, language, and personal preferences.

In conclusion, businesses should be spending substantial portions of their budgets on Ramadan, when supported by strong data recording purchasing and engagement patterns.

As the opportunity to re-plan marketing campaigns within the four weeks of Ramadan is small, marketing campaigns should be devised in a lean way, by testing and iterating efforts throughout this period.

Furthermore, by taking advantage of specific seasonal occasions, such as Indonesia’s 13 Month’s salary and Pulang Kampung, and targeting users with localised content at specific times of the day, app marketers will be able to tap into unexpected revenue sources and boost user retention.

Source: E27

_

Find our newest updates on FMB Partner official social media:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

4 Rasio Keuangan Untuk Melihat Kesehatan Bisnis

Dalam beberapa hal, seringkali bisnis atau usaha perlu melihat secara mendalam pada struktur keuangan mereka. Untuk melihat secara detail kesehatan keuangan bisnis mereka, para pelaku bisnis akan menggunakan alat ukur untuk melakukan perbandingan terhadap posisi bisnisnya saat ini maupun periode bisnis sebelumnya. Periode bisnis yang dimaksud dapat berupa: bulanan, triwulan, bahkan tahunan. Sedangkan alat ukur untuk mengetahui perbandingan bisnis menggunakan rasio keuangan.

Rasio keuangan adalah satuan kuantitatif yang dihasilkan dari perbandingan antara dua data atau lebih yang menjadi komponen pada laporan keuangan suatu bisnis. Komponen – komponen tersebut bisa berupa modal, pendapatan, hutang, piutang, ataupun biaya yang dihasilkan selama periode bisnis berlangsung. Karena bersifat perbandingan, rasio keuangan biasanya disajikan dalam bentuk persentase (%).

Dalam perkembangannya, kondisi kesehatan bisnis merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena tanpa didukung oleh kondisi kesehatan yang baik, suatu bisnis tidak dapat berkembang maksimal. Suatu bisnis dikatakan dalam kondisi sehat apabila memiliki beberapa indikator sebagai berikut: memiliki profitabilitas yang tinggi, efisiensi yang tinggi, dan solvabilitas yang tinggi. Untuk mengetahui ketiga indikator tersebut, pebisnis menggunakan rasio – rasio keuangan yang dihitung berdasarkan komponen pada laporan keuangan.

Rasio Likuiditas

Adalah kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau hutang yang harus dibayar dengan aktiva lancarnya.

Ini mengukur jumlah likuiditas (uang tunai dan aset yang dikonversi dengan mudah) yang Anda miliki untuk menutupi utang Anda, dan memberikan gambaran luas tentang kesehatan keuangan Anda.

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan Anda untuk menghasilkan uang tunai untuk memenuhi komitmen keuangan jangka pendek Anda. Ini juga disebut rasio modal kerja, dihitung dengan membagi aset Anda saat ini — seperti uang tunai, persediaan dan piutang — dengan liabilitas Anda saat ini, seperti garis saldo kredit, utang, dan bagian lancar dari utang jangka panjang.

Rasio Profitabilitas

menunjukan kemampuan untuk menghasilkan keuntungan yang dihasilkan dalam suatu bisnis.  Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM),atau Return of Asset (ROA).

Rasio Efisiensi

menunjukan kemampuan untuk meminimalisir biaya untuk menghasilkan profiabilitas dalam suatu bisnis.  Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), ataupun Operating Ratio.

Rasio Solvabilitas

menunjukkan indikasi keamanan suatu bisnis dari para pemberi pinjaman (Bank). Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Debt to Equity Ratio (DER), atau Debt to Total Asset Ratio (DAR).

Keempat indikator tersebut saling berhubungan, sehingga pebisnis harus bisa menjaga keseimbangan antara likuiditas, profitabilitas, efisiensi, dan solvabilitas yang dimiliki. Suatu bisnis yang memiliki ROA (profitabilitas) yang tinggi ditunjang oleh BOPO yang rendah (profitabilitas tinggi) sehingga menghasilkan DER (solvabilitas) yang tinggi. Begitu juga sebaliknya, bisnis yang memiliki efisiensi yang rendah (BOPO tinggi) akan menghambat profitabilitas, dan menurunkan solvabilitas suatu bisnis.

Rasio keuangan dihitung berdasarkan hasil laporan keuangan pada periode bisnis berjalan, oleh karena itu dibutuhkan sistem pencatatan akuntansi yang terintegrasi dengan laporan keuangan. Dengan menggunakan sistem akuntansi yang terkomputerisasi, maka pebisnis akan lebih mudah melakukan analisis rasio keuangan untuk mengetahui kesehatan bisnis. Karena sistem pencatatan akuntansi yang tepat akan menghasilkan laporan keuangan yang akurat sehingga pebisnis dapat melakukan analisis terhadap kesehatan bisnisnya berdasarkan rasio – rasio keuangan.

Akan tetapi penilaian kesehatan bisnis dengan menggunakan rasio keua’ngan memiliki beberapa kekurangan, antara lain: tidak memasukan faktor non kuantitatif seperti persaiangan pasar dan kepuasan konsumen. Selain itu analisa kesehatan bisnis dengan menggunakan rasio keuangan sangat bergantung pada hasil laporan keuangan, sehingga setiap proses pencatatan keuangan hingga menjadi laporan harus menggunakan sistem yang cepat, akurat, dan sistematis agar analisis rasio keuangan bisa mencerminkan kondisi bisnis sebenarnya.

Rasio akan berbeda-beda pada setiap industru pun dari waktu ke waktu. Penafsiran rasio membutuhkan pengetahuan luas tentang bisnis Anda, industri dan alasan untuk fluktuasi yang ada. Pada hal ini, FMB Partner memiliki penawaran yang dapat membantu Anda untuk menafsirkan dan meningkatkan performa keuangan bisnis Anda.

Sumber: BDCSeventhsoft.

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

Persyaratan dan Prosedur untuk Aktivasi EFIN

EFIN (Electronic Filing Identification Number) adalah nomor identitas yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) kepada Wajib Pajak yang melakukan transaksi elektronik dengan Ditjen Pajak, seperti lapor SPT melalui e-Filing dan pembuatan kode billing pembayaran pajak.

Berikut ini adalah prosedur yang harus dilakukan untuk memperoleh dan mengaktifkan EFIN Anda.

Prosedur

  1. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi:
    1. Ajukan permohonan aktivasi EFIN dengan formulir yang sudah ditentukan. Pengajuan permohonan ini tidak bisa dikuasakan kepada orang lain. Datangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat, Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) terdekat, atau lokasi lain yang ditentukan kantor pajak di atas;
    2. Tunjukkan asli serta menyerahkan fotokopi KTP buat orang Indonesia. Buat orang asing adalah paspor dan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) atau Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP);
    3. Tunjukkan asli serta menyerahkan fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Surat Keterangan Terdaftar (SKT); Menyampaikan alamat email aktif.
  2. Untuk Wajib Pajak Badan:
    1. Isi permohonan aktivasi EFIN oleh pengurus perusahaan;
    2. Pengurus datang ke KPP tempat terdaftar. Tidak bisa di kantor pajak mana saja;
    3. Pengurus menunjukkan asli dan menyerahkan fotokopi surat penunjukan pengurus yang bersangkutan untuk mewakili badan;
    4. Kalau pengurusnya adalah orang Indonesia, tunjukkan asli dan serahkan fotokopi KTP dan kartu NPWP atau SKT atas nama pengurus;
    5. Kalau pengurusnya orang asing, tunjukkan asli dan serahkan fotokopi Paspor, KITAS atau KITAP, dan NPWP atau SKT-nya;
    6. Tunjukkan asli dan serahkan kartu NPWP atau SKT atas nama wajib pajak badan;
    7. Menyampaikan alamat email aktif badan tersebut.

Bagaimana cara mendapatkan EFIN untuk Wajib Pajak Badan yang merupakan kantor cabang?

Berikut ini adalah prosedurnya.

  1. Yang mengajukan permohonan EFIN adalah pimpinan kantor cabang;
  2. Datang ke KPP tempat kantor cabang terdaftar sebagai wajib pajak;
  3. Surat pengangkatan pimpinan kantor cabang;
  4. Surat penunjukan pimpinan kantor cabang sebagai pengurus yang mewakili badan;
  5. Kalau pengurusnya adalah orang Indonesia, tunjukkan asli dan serahkan fotokopi KTP dan kartu NPWP atau SKT atas nama pengurus. Kalau pengurusnya orang asing, tunjukkan asli dan serahkan fotokopi Paspor, KITAS atau KITAP, dan NPWP atau SKT-nya;
  6. Tunjukkan asli dan serahkan kartu NPWP atau SKT atas nama kantor cabang;
  7. Menyampaikan alamat email aktif kantor cabang tersebut.

Formulir untuk permohonan aktivasi eFIN dapat diunduh pada tautan berikut: Formulir Aktivasi EFIN.

Setelah EFIN Anda aktif, Anda dapat menggunakannya​ untuk registrasi di situs aplikasi DJP Online. Untuk Anda yang telah terdaftar, EFIN ini juga diperlukan jika akan melakukan reset password maupun email di situs aplikasi DJP Online. Jadi, simpan EFIN Anda dengan baik. Maka Anda cukup sekali saja datang ke KPP untuk aktivasi EFIN, karena EFIN berlaku untuk seumur hidup.

Untuk Anda yang lupa atau berkas EFIN yang Anda simpan, hilang, ikuti tips berikut ini: 

Sumber: Direktorat Jenderal Pajak

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

Mengelola Penghasilan dengan Prinsip 10 – 20 – 30 – 40

Mengelola penghasilan merupakan salah satu bagian yang sangat penting sebelum memulai investasi di reksa dana. Sederhana saja, kalau tidak ada dana, tentu tidak bisa menjadi investor reksa dana. Pertanyaannya, bagaimana cara mengelola penghasilan yang baik ?

Untuk menjadi investor reksa dana, tidak dibutuhkan dana yang besar. Saat ini sudah banyak manajer investasi dan agen penjual yang menetapkan Rp 100.000 sebagai minimum investasi. Mulai ada juga yang menetapkan Rp 10.000 sebagai minimum untuk membuka rekening reksa dana.

Yang menjadi permasalahan bukanlah Rp 10.000, Rp 100.000 atau bahkan Rp 10 juta yang menjadi minimum pembukaan. Sebab untuk yang penghasilannya besar sekalipun, jika semuanya dihabiskan untuk pengeluaran konsumtif tentu tidak ada sisa yang bisa diinvestasikan atau bahkan harus berhutang.

Mengelola penghasilan juga bukan berarti harus hidup berhemat dan tidak menikmati hidup sama sekali. Sepanjang direncanakan dengan baik, tetap ada porsi yang bisa digunakan untuk menikmati hidup dalam batasan yang wajar.

Salah satu referensi yang bisa digunakan dalam melakukan perencanaan bagaimana menghabiskan penghasilan adalah prinsip 10 – 20 – 30 – 40. Penjumlahan dari 10 + 20 + 30 + 40 adalah 100. Angka tersebut menunjukkan berapa persen dari penghasilan yang sebaiknya dialokasikan.

(Dok. Rudiyanto Zh)

(Dok. Rudiyanto Zh)

10 Persen untuk Kebaikan

Berapapun penghasilan anda, besar ataupun kecil, upayakanlah untuk selalu berbuat kebaikan. Definisi berbuat kebaikan itu amat luas, tidak terbatas hanya pada memberikan donasi di tempat ibadah, tapi juga hal lain seperti berbakti kepada orang tua dan memberikan bantuan secara bijaksana kepada orang lain yang membutuhkan.

Angka ini juga bukanlah angka pasti yang sifatnya wajib, jika anda masih dalam tahap awal berkarir sehingga penghasilannya belum besar, bisa lebih kecil dari angka tersebut namun upayakan tetap ada.

Sebaliknya jika karier atau usaha anda sukses, tidak menutup kemungkinan juga untuk memberikan di atas persentase tersebut.

20 Persen untuk Masa Depan

Dalam konteks keuangan, persiapan untuk masa depan mencakup hal seperti Dana Darurat, Asuransi Jiwa dan Kesehatan, Dana Pendidikan Anak, Dana Pensiun, Dana untuk DP Rumah (bagi yang belum memiliki), Mengembangkan Kekayaan dan dana untuk berbagai tujuan keuangan lainnya.

Untuk pemenuhan Masa Depan tersebut bisa menggunakan berbagai produk jasa keuangan dan investasi seperti tabungan, deposito, asuransi dan reksa dana atau emas. Yang paling penting dalam pemilihan produk di atas adalah masyarakat harus memahami bahwa yang namanya investasi itu mengandung risiko.

Dengan memahami risiko, cara kerja, dan juga dengan hak dan kewajiban dalam produk jasa keuangan, maka masyarakat bisa menikmati potensi penghasilan dari produk tersebut di masa mendatang. Hal ini juga sesuai dengan slogan reksa dana “Pahami, Nikmati”.

30 Persen Cicilan

Dengan harga rumah yang semakin meningkat, jalanan yang semakin macet, dan fasilitas tranportasi publik yang mungkin belum tersedia secara merata di semua tempat, adalah sangat mungkin jika seseorang memiliki cicilan untuk rumah / apartemen dan kendaraan.

Memiliki hutang dan cicilan dalam konteks perencanaan keuangan masih baik sepanjang digunakan untuk membeli rumah, kendaraan, atau peralatan untuk kebutuhan yang sifatnya produktif. Untuk rumah dengan status sewa juga bisa dimasukkan dalam alokasi ini.

Namun apabila digunakan untuk membeli barang yang sifatnya konsumtif seperti membeli gadget mewah, jalan-jalan, maka secara perencanaan keuangan itu kurang baik.

Hal ini tidak berarti tidak boleh konsumtif, hanya saja kalau bisa jangan berutang untuk hal yang sifatnya konsumtif tersebut. Jika memang dananya belum cukup, belilah yang sesuai kemampuan. Bagi yang sudah terlanjur berhutang untuk pengeluaran konsumtif, jika memungkinkan, bisa dilunasi secepatnya.

Ada satu kutipan dari bapak Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia, tentang bagaimana mengatur pengeluaran. Kutipannya sebagai berikut “If you buy things you do not need, soon you will have to sell things you need”

40 Persen Kebutuhan

Persentase inilah idealnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk didalamnya biaya makan, transportasi, tagihan utilitas, pulsa telepon, langganan televisi, keanggotaan olahraga, hobi, pakaian, rekreasi dan sebagainya.

Semua dari yang sifatnya kebutuhan pokok, sampai gaya hidup silakan dimasukkan dalam alokasi ini. Dalam kasus terjadi hal pengeluaran yang sifatnya darurat seperti masuk rumah sakit atau ada kerabat yang meninggal, maka posnya diambil dari alokasi 20% untuk masa depan.

Aplikasi Konsep 10 – 20 – 30 – 40

Konsep di atas apabila diaplikasikan, contohnya sebagai berikut. Misalkan penghasilan per bulan Rp 4 juta, maka sebanyak Rp 400.000 untuk Kebaikan, Rp 800.000 untuk Masa Depan, Rp 1.200.000 untuk Cicilan dan Rp 1.600.000 untuk Kebutuhan.

Jika anda termasuk kategori yang berpenghasilan di atas rata-rata misalkan dengan penghasilan Rp 10 juta, maka alokasinya menjadi Rp 1.000.000 untuk kebaikan, Rp 2.000.000 untuk Masa Depan, Rp 3.000.000 untuk Cicilan dan Rp 4.000.000 untuk kebutuhan.

Alokasi di atas bersifat usulan, anda dapat menyesuaikan sendiri sesuai dengan kondisi keuangan anda. Dan jika anda termasuk kategori masyarakat yang berpenghasilan jauh di atas rata-rata sehingga sebenarnya 10 persen dari penghasilan anda sudah cukup untuk kebutuhan, maka beberapa komponen di atas juga bisa dibalik seperti 10 persen untuk Kebutuhan dan 40 persen untuk Kebaikan.

Bagaimana jika dengan alokasi tersebut, ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan? Ada kemungkinan itu merupakan kode alam yang sangat keras kepada anda untuk segera membenahi keuangan dan bekerja lebih keras untuk meningkatkan penghasilan.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Sumber: Kompas

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more

5 Strategi Cerdas Mengatur Keuangan Freelancer

Dari pendapatan yang melebihi gaji karyawan hingga tidak ada pendapatan sama sekali, pasti pernah dirasakan oleh freelancer. Tentunya, karena keuangan yang bergantung dari penawaran pekerjaan, seorang freelancer yang kurang pintar mengatur keuangannya akan merasa kesulitan.

Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para freelancer adalah kemampuan mengatur keuangan agar segala kebutuhan Anda terpenuhi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk membantu pengaturan keuangan yang lebih baik.

#1 Pemilihan Proyek yang Tepat

Sebelum mengatur arus kas keuangan Anda, yang pertama yang harus Anda atur adalah penghasilan Anda.

Salah satu tips untuk menikmati keuangan yang lebih stabil adalah mengusahakan agar setiap bulannya Anda mendapatkan penghasilan. Dengan penghasilan ‘tidak tetap yang tetap’, Anda akan lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak cara untuk mendapatkan penghasilan secara rutin, salah satunya adalah dengan mempromosikan jasa Anda.

Semakin banyak nama Anda di mana-mana, semakin orang akan mengenal Anda. Selain mendapatkan penghasilan secara rutin, Anda juga harus cermat dalam memilih pekerjaan. Hitunglah waktu dan biaya yang harus Anda habiskan untuk pengerjaan proyek tersebut dan penghasilan yang didapatkan dari proyek tersebut. Jika seimbang, maka Anda dapat mengerjakannya. Jika pengeluaran melebihi penghasilan, sebaiknya lewati proyek tersebut.

#2 Mencatat Penghasilan dan Pengeluaran

Pada dasarnya, kas keuangan terdiri dari 2 aspek, pendapatan dan pengeluaran. Bagi seorang freelancer, pendapatan bukan berarti gaji, tetapi penghasilan yang Anda terima dari pekerjaan lepas waktu. Penghasilan seorang freelancer tidak tetap, oleh karena itu memiliki detail laporan mengenai pendapatan sangatlah penting.

Cantumkan jenis proyek serta tanggal pengerjaannya, kemudian tanggal pembayaran serta nominal yang diterima Setelah mencatat pemasukan, maka selanjutnya adalah biaya yang Anda habiskan setiap harinya yang dicatat dalam pengeluaran. Simpan struk belanja, atau struk pembayaran Anda setiap bulan sehingga Anda memiliki rekam jejak ke mana uang tersebut Anda habiskan. Dari laporan pemasukan dan pengeluaran ini, Anda dapat memperkirakan jumlah anggaran bulanan Anda di awal bulan. Setelah melakukan proyeksi anggaran, aturlah pengeluaran harian Anda sesuai dengan pengaturan anggaran yang telah Anda susun.

#3 Mengendalikan Pengeluaran

Berbeda dengan karyawan perusahaan yang pengeluaran bisnisnya dikeluarkan oleh perusahaan, sebagai freelancer, Anda harus memakai dana pribadi untuk mendanai pengeluaran pribadi serta pengeluaran bisnis.

Tetapi, Anda harus pintar membedakan kedua pengeluaran ini. Mengapa? Alasan yang pertama adalah agar Anda dapat menghitung berapa tarif yang harus Anda kenakan pada konsumen. Jumlah tarif Anda tentunya bergantung pada berapa banyak pengeluaran yang Anda keluarkan untuk bisnis serta keuntungan yang ingin Anda terima.

Kedua, Anda lebih mudah mengendalikan pengeluaran pribadi Anda karena tidak tercampur dengan pengeluaran bisnis. Salah satu cara mudah untuk membantu Anda adalah memiliki pos dana untuk masing-masing pengeluaran serta anggaran untuk masing-masing pengeluaran. Aturlah pengeluaran Anda agar tidak melebihi anggaran yang telah disediakan. Berhematlah pada pengeluaran pribadi Anda, jika ada pengeluaran-pengeluaran yang dapat disubstitusi dengan yang lebih murah maka lakukanlah. Selain itu, Anda juga harus pintar-pintar dalam mengeluarkan uang untuk keperluan bisnis, misalnya jika Anda harus bertemu dengan klien, carilah tempat umum sepertifood court atau café sehingga Anda dapat berbicara lebih lama tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

#4 Pos Dana Darurat

Sebagai freelancer, memiliki pos dana darurat sangatlah penting karena Anda tidak dapat memastikan kapan Anda akan mendapatkan orderan serta kapan Anda dibayar. Menyisihkan pendapatan di rekening tabungan yang berbeda atau di tempat yang berbeda dengan tabungan biasa akan membantu Anda untuk lebih mudah mengatur keuangan.

Biasanya, Anda cukup menyisihkan 10% dari pendapatan bulanan Anda setiap bulannya untuk ditabung di pos dana darurat. Besarnya jumlah ini tentunya relatif tergantung dengan gaya hidup masing-masing. Umumnya, Anda perlu memiliki dana tunai yang mencukupi kebutuhan 3-6 bulan Anda ketika tidak bekerja. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan sebagai dana darurat, Anda juga dapat melakukan banyak pekerjaan sekaligus atau menerima beberapa proyek sekaligus, dengan catatan Anda dapat menyelesaikan semuanya dengan hasil yang berkualitas.

#5 Investasi

Selain menabung, uang yang telah Anda sisihkan sebaiknya Anda investasikan. Terdapat 3 hal yang harus Anda investasikan, sebagai seorang freelancer, yaitu alat, keterampilan & pengetahuan serta uang. Investasi sebagai alat berarti Anda menggunakan uang untuk investasi pada peralatan yang mendukung pekerjaan Anda sebagai freelancer. Misalnya, Anda adalah seorang pemusik, maka berinvestasilah pada alat-alat musik. Atau jika Anda seorang Youtuber, maka berinvestasilah pada kamera atau microphone. Yang kedua adalah keterampilan dan pengetahuan, di mana Anda mengikuti kursus atau kelas terbuka yang ditujukan untuk menambah ilmu Anda sebagai seorang freelancer.

Sumber: DetikLiputan6

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Read more