FMB-Partner-UMKM-UKM

Menyelaraskan E-commerce dengan Toko Ritel

Saat para perusahaan ritel menutup toko-toko mereka di berbagai lokasi dari tahun ke tahun, brand-brand ternama sudah beranjak dari ritel fisik ketimbang lari dan menutup diri.

Seperti perusahaan startup online Casper yang membuka Sleep Shop di Manhattan, Amerika di mana pembeli dapat mencoba produk mereka pada 6 skenario ‘rumah’ yang berbeda. Di toko retail Away, New York, pembeli dapat mengkustomisasi koper yang mereka beli. Atau seperti BLP Beauty milik make-up artist Lizzie Parra yang memberikan konsultasi kecantikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pembelinya di toko pop-up pertamanya di Lotte Avenue, Kuningan. Banyak brand-brand dalam dan luar negeri yang memiliki toko pop-up di berbagai lokasi, saat perusahaan ritel memutuskan menutup toko mereka. 

Perusahaan yang sebelumnya menjadi brand-brand yang online-exclusive (“digital native vertical brands”) telah membuat belanja di dunia nyata menjadi keren kembali–bila dibandingkan dengan perusahaan ritel raksasa di seluruh dunia.

Apa itu Digital Native Vertical Brand?

Digital Native Vertical Brand ‘DNVB’ atau yang biasa diarahkan sebagai digital native brands, adalah para perusahaan e-commerce yang mencoba untuk mengubah, mengganggu niche mereka dengan produk-produk inovatif, penawaran streamlined (dan terkadang terbatas) dan fokus kepada pengalaman para pembelinya. Beroperasi seperti perusahaan perintis yang ramping dengan jumlah tim kecil, inventaris minimum, dan pengeluaran biaya dimuka yang rendah, mereka telah mengakumulasi jumlah penggemar/pengikut online yang engaged dengan mereka di media sosial, menarik pembeli muda yang mengapresiasi kualitas sekaligus kemudahan.

Retail sebagai Kepanjangan dari Brand 

“Sebuah brand yang memiliki 500 toko tidak lagi masuk akal di dunia sekarang ini,” Direktur Everlane, Michael Preysman saat diwawancara oleh Adweek. “Namun memiliki 20 hingga 50 lokasi utama yang membantu menghadirkan ekspresi brand secara nyata yang sangat relevan bagi pelanggan.”

Perusahaan ritel busana online sudah memulai untuk membuka toko ritel offline di lokasi utama yang dapat memimikkan kemudahan, karakter streamlined online mereka yaitu pembeli dapat berbelanja dengan dompet minim menggunakan akun online, check in otomatis dan bahkan menunggu di ruang tunggu/ruang pengukuran dengan sistem buzzer ketimbang bosan menunggu dalam antrian seperti biasanya.

Nilai Perusahaan

Pertimbangkan cara Anda mendemonstrasikan nilai utama atau nilai unik perusahaan di toko offline Anda. Salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh Everlane adalah “transparansi radikal”. Produk perusahaan tersebut betul-betul dengan etika dibuat di pabrik dengan kondisi bekerja yang baik. Di dalam lokasi ritel Everlane, foto-foto kondisi pabrik tersebut dipajang layaknya lukisan seni, ditemani dengan bagaimana cara kain-kain garmen itu dibuat.

Pengalaman Pembeli 

Orang berbelanja online karena kenyamanan dan kemudahan yang diberikan, namun tidak berarti berbelanja di toko offline tidak memiliki nilai. Berbelanja di toko offline mengizinkan pembeli dapat memastikan ukuran yang pas dan cocok, sebagai contoh. Dan meskipun orang senang berbelanja online, kita tahu bahwa mereka lebih memilih untuk mengembalikan barang yang salah kirim ke lokasi toko fisik. Dalam hal untuk membuat berbelanja di toko fisik lebih menyenangkan, brand harus berinovasi untuk membuat pengalaman offline semudah dan sesederhana dengan berbelanja online.

Menyelaraskan Ritel dengan E-commerce

Jika mayoritas pembeli membuat poin-poin loyalitas pertama mereka dengan brand Anda secara online, hal itu tidak akan berubah meski Anda membuka satu atau dua toko fisik. Perusahaan seperti Casper paling mengutamakan cara mereka mendemonstrasikan nilai dari penawaran mereka dan identitas mereka sebagai brand kepada pengunjung website mereka.

Segalanya mengenai ruang ritel untuk brand-brand ini dari dekor yang dipajang hingga kasir/checkout semua terintegrasi dengan pengalaman brand, membuat kehadiran online mereka tangible. Dan kesuksesan digital native brand untuk mengubah niche mereka tidak hanya dengan produk inovatif melainkan juga storytelling. 

Brand E-commerce memiliki peluang unik untuk menjalin gaya dan cerita mereka ke setiap aspek dari pesan yang mereka kirimkan. Anda bisa menggunakan konten untuk menciptakan passionate virtual narrative yang mendukung bahkan dapat membuat brand Anda memiliki turning customers.

Diterjemahkan oleh FMB Partner dari Forbes Forbes.

Temukan kabar bisnis terbaru di akun resmi media sosial FMB Partner:

Facebook Page

Instagram Page

Add your comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *